Rabu, 05 November 2014

PENYAKIT BEHCET (BEHCET DISEASE)


BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit Behcet’s adalah suatu peradangan multisistem kronis yang ditandai oleh ulserasi yang hilang timbul pada rongga mulut, alat  kelamin,  mata dan umumnya melibatkan sendi, kulit, sistem  saraf  pusat  dan saluran  pencernaan. [1, 2]
Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh dokter ahli penyakit kulit yang berasal dari Turki  bernama  Hulusi  Behçet  pada  tahun  1937 yang menyebutnya sebagai ”ulser aftosa rekuren, ulser genital dan uveitis-hipopion”.[1]
Selain ulserasi rongga mulut, manifestasi klinis di organ lain sangat bervariasi pada tiap populasi yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan adanya pengaruh genetik terhadap timbulnya serta perkembangan penyakit. Etiologi penyakit behcet masih diperdebatkan hingga saat ini, namun hipotesis mengenai patogenesisnya sudah banyak diteliti yakni penyakit behcet timbul akibat adanya respon peradangan yang dipicu oleh agen infeksius pada tubuh pejamu dan dipengaruhi oleh genetik tertentu. Walaupun penyakit behcet merupakan penyakit yang insidensinya termasuk sangat jarang terjadi di seluruh dunia, namun penyakit ini banyak ditemukan secara endemik di Asia hingga Mediteranea. [2, 3,4]
Prevalensi penyakit behcet di dunia sangat bervariasi tergantung pada etnis dan  daerah geografis tertentu. Umumnya penyakit behcet terjadi di negara-negara yang berbatasan seperti Jepang, Korea, Cina, Irak, Iran dan Turki. Prevalensi penyakit behcet tertinggi di dunia adalah di kota Anatolia, Turki  dengan  jumlah 370 pasien di antara 100.000 jiwa. Sedangkan prevalensi terendah adalah di Eropa utara dan Amerika Serikat dengan jumlah 0,1 hingga 7,5 pasien diantara 100.000 jiwa.[4]
Penyakit behcet dapat terjadi pada semua golongan usia, terutama dalam dua dan tiga dekade ini dengan perbandingan yang sama antara pria dan wanita, namun hal ini masih tergantung pada lokasi geografis. Keparahan penyakit umumnya timbul pada usia muda dan jenis kelamin pria. [4, 5]


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      DEFINISI
Penyakit Behçet adalah suatu gangguan inflamasi multisistem yang ditandai dengan ulkus berulang pada mulut dan kelamin, inflamasi okular, dan sering melibatkan sendi, kulit, sistem saraf pusat (SSP) serta saluran pencernaan. Penyakit ini diklasifikasikan sebagai penyakit sistemik vaskulitis, yang dapat melibatkan arteri maupun vena dan hampir setiap organ. [1, 4]
B.       EPIDEMIOLOGI
Kasus penyakit behcet tampak mengelompok di sepanjang Jalan Sutra kuno, yang membentang dari Asia Timur ke Mediterania. Angka kejadiannya adalah 80-370 kasus per 100.000  penduduk di Turki, 10/100.000 di Jepang dan 0,6/100.000 di Yorkshire. Untuk rasio laki-laki dan perempuan adalah 7:1, tetapi dalam beberapa studi perbandingan pada jenis kelamin perempuan lebih mendominasi dari pada laki-laki. Penyakit Behçet agak lebih umum ditemukan pada perempuan di Jepang dan Korea, sedangkan laki-laki lebih sering terkena di negara-negara Timur Tengah. Onset biasanya pada dekade ketiga atau keempat. Frekuensi dalam keluarga adalah 2 sampai 5 persen, kecuali di negara-negara Timur Tengah, dimana adalah 10 sampai 15 persen. Penyakit behcet terjadi antara 18 sampai 40 tahun. [ 4, 5,6]


C.      ETIOLOGI
Belum diketahui etiologi yang menyebabkan terjadinya Penyakit Behçet ini, namun banyak hipotesis mengemukakan bahwa patogenesis penyakit ini merupakan suatu respon inflamasi yang dipicu oleh agen infeksi pada beberapa genetik yang rentan. Kombinasi faktor genetik dan lingkungan ditengarai menjadi penyebab penyakit ini. Beberapa peneliti meyakini bahwa virus atau bakteri dapat memicu terjadinya penyakit Behcet pada orang-orang yang memiliki gen tertentu yang membuat mereka rentan terhadap penyakit ini. [ 1, 4, 6]
D.      PATOGENESIS
Cedera Vascular, hiperfungsi neutrofil, dan respon autoimun merupakan karakteristik dari penyakit behcet. Biopsi pada penyakit ini mengkonfirmasi adanya lesi vasculitis, termasuk ulkus oral dan genital, eritema nodosum, posterior uveitis, epididimitis, enteritis, dan lesi sistem saraf pusat. [1, 4, 6]
Vaskulitis mempengaruhi pembuluh darah besar vasa vasorum. Cedera vaskular menunjukan adanya hiperkoagulabilitas yang menandakan karakteristik penyakit behçet yang mungkin disebabkan oleh teraktivasinya sebagian sel endotel dan trombosit. Neutrofil pada pasien dengan penyakit behçet mengalami peningkatan produksi superoksida, kemotaksis, serta produksi yang berlebihan dari enzim lisosom, yang mengindikasi bahwa neutrofil terlalu aktif sehingga menyebabkan cedera jaringan. [1, 4, 6]
Pada pasien dengan penyakit behcet fungsi limfosit menjadi abnormal. Limfosit spesifik untuk penentuan peptida berasal dari heat shock protein 60, yang sangat homolog dengan bakteri heat shock protein 65. Epitop dkenali oleh autoreaktif sel T anti-heat shock protein saling melengkapi dengan sel-B. Epitop autoantibodi terhadap heat shock protein pada pasien dengan penyakit Behçet. Epitop ini benar-benar berbeda dari epitop yang terkait dengan heat shock protein 60. Yang terpenting dari peptida adalah berasal dari heat shock protein 60  yang mengakibatkan penyakit behcet sehingga ditemukan pada ekspresi menyimpang protein ini di mukosa mulut, peredaran leukosit, dan kulit pasien dengan penyakit behçet. Sehingga pada pasien pasien dengan penyakit behçet ditemukan adanya ekspansi klonal autoreaktif sel T spesifik untuk peptida yang berasal dari heat shock protein. Namun, masih harus diketahui secara pasti apakah autoimun merupakan mekanisme primer atau sekunder pada penyakit Behçet. [1, 4, 6]

E.       GAMBARAN KLINIS
Hampir semua penderita mengalami luka di mulut yang terasa nyeri dan berulang, yang biasanya merupakan gejala awal. Luka di penis, skrotum dan vulva cenderung nyeri. Gejala lainnya muncul beberapa hari bahkan beberapa tahun kemudian. Peradangan berulang dari bagian mata (iridosiklitis kambuhan) menyebabkan nyeri pada mata, peka terhadap cahaya dan penglihatan berkabut. Beberapa gangguan mata lainnya bisa terjadi, seperti uveitis, yang bisa menyebabkan kebutaan jika tidak diobati. [ 4, 6, 7]
Lepuhan di kulit dan pustula muncul pada sekitar 80% penderita. Luka kecil, bahkan tusukan jarum sekalipun bisa menyebabkan daerah ini membengkak dan meradang. Sekitar 50% penderita mengalami artritis non progresif yang relatif ringan di lutut dan sendi besar lainnya. [1, 4]
Peradangan pembuluh darah (vaskulitis) di seluruh tubuh bisa menyebabkan:
·         Pembentukan bekuan darah
·         Aneurisma (penonjolan pada dinding pembuluh darah yang lemah)
·         Stroke
·         Kerusakan ginjal.
Jika mengenai saluran pencernaan, gejalanya bisa berkisar mulai dari rasa tidak enak yang ringan sampai kram perut yang berat dan diare. Gejala atau periode bebas gejala dari sindroma ini bisa berlangsung selama beberapa minggu, beberapa tahun bahkan beberapa dekade. Komplikasi yang kemungkinan besar terjadi adalah kelumpuhan. Kadang-kadang kerusakan dari sistem saraf, saluran pencernaan atau pembuluh darah bisa berakibat fatal. [1, 4, 6]
Gejala penyakit Behcet berbeda-beda tiap orang. Penyakit Behcet dapat menghilang dan muncul sendiri. Tanda-tanda dan gejala yang dialami tergantung pada bagian mana dari tubuh yang dipengaruhi oleh peradangan penyakit ini. [ 4, 6]
·         Mulut
Sariawan yang terasa nyeri adalah tanda yang paling umum dari penyakit Behcet ini. Luka sariawan biasanya sembuh dalam tujuh sampai 21 hari meskipun nanti muncul kembali. Lesi mukokutan merupakan ciri khas penyakit disease.  Aphthous Oral terjadi pada 98% kasus dan wajib dalam klasifikasi kriteria internasional. Ulkus muncul di lidah, faring, buccal dan labial membran mukosa. Lesi khas bulat dan tajam, eritematosa dan batasan meningkat, sebagian besar 1 sampai 3 cm, tetapi lebih besar. Awalnya lesi dapat berwarna kemerahan terkelupas dan kemudian segera menjadi ulkus. Permukaan ditutupi dengan pseudomembran kekuningan. Lesi sembuh dalam waktu sekitar 10 hari sebagian besar tanpa jaringan parut. Seperti dalam semua aphthoses oral, ulkus oral pada penyakit behcet dapat terjadi setelah dipengaruhi aktivitas fisik atau zat beracun (membersihkan gigi, trauma sederhana, atau makanan tertentu seperti kacang-kacangan). Ketika lesi bertambah banyak atau membesar, makan atau berbicara itu akan terasa perih. Ulkus berevolusi untuk penyembuhan tanpa jaringan parut dan atau pembesaran kelenjar getah bening. Mereka tidak dapat dibedakan dari ulkus oral berulang, tetapi jumlah, ukuran, kekambuhan lesi mendesak untuk mencari manifestasi lain dari penyakit behcet.[1, 4, 5]
·         Kulit
Masalah kulit dapat bervariasi. Beberapa orang memiliki jerawat seperti luka pada tubuh. Yang lainnya dapat berupa bintil-bintil merah yang lembut pada kulit, terutama pada kaki bagian bawah. Berbeda dengan acne vulgaris, Pseudofolliculitis dan acneiform nodul bisa muncul  seluruh tubuh dan mereka tidak selalu terkait dengan folikel rambut. Biopsi ini berguna untuk menunjukkan suatu inflamasi menyusup yang tidak terhubung dengan folikel rambut. Pada pengamatan, diagnosis tidak mudah dilakukan pasien mendapat penanganan dengan steroid. Sebuah iritabilitas kulit spesifik sering dengan papula di area suntikan. Pada tes patergi, papul 2mm diinduksi 24 sampai 48 jam, ini merupakan salah satu dari 4 kriteria klasifikasi, tetapi sensitivitas nya rendah dengan jarum sekali pakai dan desinfeksi kulit. [2, 6]
·         Alat kelamin
Luka di alat kelamin biasanya terjadi pada skrotum atau vulva. Luka genital biasanya menyakitkan dan dapat meninggalkan bekas luka. Aphthae Genital terjadi pada 60 sampai 65% kasus dan  sangat menyarankan diagnosis dari penyakit behcet. Lesi lokal pada pria di skrotum lebih jarang dari pada di penis atau di uretra. Pada wanita, lesi vulva dan vagina dapat menyebar dan menyakitkan. Morfologisnya mirip dengan ulkus oral tetapi biasanya lebih besar dan lebih dalam. Lesi meninggalkan bekas di 50% kasus yang memungkinkan diagnosis retrospektif. [1, 4, 6]
·         Mata
Penyakit Behcet dapat menyebabkan peradangan mata yang disebut uveitis. Uveitis menyebabkan satu atau kedua mata merah, nyeri dan penglihatan kabur. Gangguannya bisa datang dan pergi. Peradangan yang terjadi pada pembuluh darah retina merupakan komplikasi serius dari gangguan tersebut. Keterlibatan okular sering dan parah, sering bilateral, mengorbankan cepat fungsi penglihatan. Berbagai lesi mata telah ditemukan seperti, uveitis, katarak, glaukoma, segmen posterior keterlibatan dengan vaskulitis, vitritis, retinitis, panuveitis, retina edema, degenerasi makula cystoid, oklusi vena atau arteri, edema dan ablasi retina. Uveitis anterior dengan hypopyon meskipun pertama kali dijelaskan langka, dan sementara memiliki prognosis yang relatif baik. Hal ini dapat menjadi rumit dengan synechia dan glaukoma.  Uveitis posterior hampir konstan dalam keterlibatan  pada kasus mata. Koroid pertama terlibat dengan nekrosis lesi. Lesi yang perifer dan dapat menyebabkan pigmentasi. Terlibat vitreous body sekunder dengan hilangnya transparansi, retraksi dan traksi pada retina. Angiografi fluorescein dilatasi kapiler, obstruksi pembuluh darah dan daerah kebocoran. Vaskulitis adalah proses dasar yang melibatkan pembuluh darah dan arteri dengan kecenderungan trombosis. Prognosis parah karena sering kambuh dan parsial pemulihan dengan terapi. Prognosis jangka panjang yang buruk berhubungan dengan hipertensi okular, katarak dan vaskulitis retina dengan kebutaan terjadi pada 25 sampai 30% kasus di sebagian besar seri di 5 tahun. Berdasarkan penelitian, dengan terapi intensif dan perawatan secara bersamaan oleh dokter spesialis mata dan internis, prognosis jauh lebih baik dengan hanya 2% dari de novo kehilangan penglihatan yang parah pada 6 tahun masa tindak lanjut. Keterlibatan mata juga dapat dikaitkan dengan Manifestasi neurologis: palsy saraf kranial, neuropati optik atau papilledema dengan intrakranial jinak hipertensi. [1, 4, 6]
·         Sendi
Pembengkakan dan nyeri sendi pada lutut. Pergelangan kaki, siku atau pergelangan tangan juga mungkin terkena. Tanda dan gejala dapat berlangsung satu sampai tiga minggu dan hilang dengan sendirinya.[4, 5]
·         Sistem peredaran darah
Peradangan pada pembuluh darah dan arteri besar menyebabkan pembengkakan, kemerahan, dan nyeri pada lengan atau kaki. Peradangan pada arteri besar dapat mengakibatkan komplikasi, seperti aneurisma dan penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah. Trombosis vena terjadi pada 30% kasus. Penyakit behcet termasuk vaskilitis dengan spektrum yang luas. Vaskulitis adalah temuan patologis utama pada penyakit behcet, dan dari semua ukuran pembuluh darah yang terlibat, baik dalam sistem arteri dan vena. Pada penyakit ini keterlibatan pembuluh darah lebih umum didapatkan pada vena dari pada arteri, dan prevalensinya dapat menjelaskan 14% sampai 39% dari pasien dengan penyakit behcet. Trombosis vena pada penyakit behcet adalah gangguan yang parah, dan dapat banyak mempengaruhi sistem lain. [1, 4, 6]
·         Sistem pencernaan
Penyakit Behcet dapat menyebabkan berbagai tanda dan gejala yang mempengaruhi sistem pencernaan, termasuk sakit perut, diare atau perdarahan. Ulkus terjadi pada saluran cerna bagian atas, lambung, usus kecil dan daerah perianal, di mana mereka dapat menyebabkan perforasi. Manifestasi kulit yang paling sering adalah Pseudofolliculitis  dan eritema nodosum seperti lesi. [1, 4, 6]
·         Otak
Penyakit Behcet dapat menyebabkan peradangan di otak dan sistem saraf yang mengarah ke sakit kepala, demam, gangguan atau stroke. [4 ,5, 6]

F.       DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik karena pada pemeriksaan laboratorium belum ada yang dapat mendeteksi sindroma Behcet. Gejalanya mirip dengan penyakit lain, seperti sindroma Reiter, sindroma Steven-Johnson, lupus eritematosus sistemik, penyakit Crohn dan kolitis ulserativa. [1, 4, 5]
Karena penyakit Behçet tidak memiliki gejala atau temuan laboratorium, berdasarkan kriteria yang dibuat dan diusulkan oleh Kelompok Studi Internasional untuk penyebaran penyakit behçet pada tahun 1990. [3, 4, 7]
Menurut kriteria, ulserasi mulut berulang harus hadir serta setidaknya dua dari berikut: ulcerasi genital rekuren, lesi mata, lesi kulit, dan tes pathergy positif.
Diagnosis of Adamantiades
      Oral aphthosis (1 point)
      Manifestasi kulit (pseudofollikulitis, aphthosis kulit) (1 point)
      Lesi Vaskular (1 point)
      Pathergy Test positif (1 point)
      Apthosis genital (2 point)
      Lesi Okuler (2 point)
Diagnosis pada penyakit behcet’s ditentukan berdasarkan total skor 3 point yang didapatkan berdasarkan kriteria. [5]

G.    DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding meliputi kronis aphthosis oral, infeksi herpes simplex virus, hand foot mouth disease (HFMD), varisela, herpes zoster, Sweet syndrome, dan HLA-B27 terkait sindrom seperti ankylosing spondylitis. Gejala gastrointestinal pada penyakit behcet harus dibedakan dengan orang-orang dengan Penyakit Crohn dan kolitis ulserativa. Gejala harus dibedakan dari orang-orang multiple sclerosis. [ 4, 5,  6]

H.      PENATALAKSANAAN
Pilihan pengobatan tergantung pada manifestasi klinis. Prioritas penanganan diberikan terhadap pengobatan gejala gastrointestinal, keterlibatan sistem saraf pusat, dan lesi pembuluh darah besar, yang membutuhkan kortikosteroid dosis tinggi, imunosupresan, atau keduanya. Pada beberapa kasus, dibutuhkan intervensi pembedahan. Pengobatan lesi okuler membutuhkan pertimbangan agar lebih berhati-hati daripada pengobatan gejala mukokutan. Konsultasi dengan berbagai spesialis sangat penting untuk keberhasilan pengobatan lesi mukokutan. [1, 4, 6]
1.      Kortikosteroid
Kortikosteroid topikal berguna untuk ulkus oral dan genital. Agen mydriatic topikal dan tetes kortikosteroid diberikan untuk serangan uveitis anterior. Kortikosteroid sistemik dianjurkan untuk eritema nodosum yang refrakter terhadap pengobatan dengan colchicine. Tujuan terapi adalah untuk mengurangi baik tingkat keparahan dan frekuensi serangan okular. Injeksi kortikosteroid dengan pemberian sistemik dalam beberapa kasus, adalah digunakan untuk serangan akut posterior uveitis. Meskipun terapi kortikosteroid oral saja memiliki efek paliatif pada serangan mata, tidak meningkatkan visual prognosis dan bahkan dapat menyebabkan retina sekunder trombosis dan katarak. Pada lesi gastrointestinal perlakuan yang diberikan untuk inflamasi saluran cerna juga berguna pada penyakit behçet. Dosis kortikosteroid diberikan tergantung pada tingkat keparahan lesi. [ 4, 6]
2.      Colchicine
Colchicine memiliki efek menguntungkan pada gejala mukokutan, mungkin dengan menghambat fungsi neutrofil. Colchicine diberikan untuk mencegah uveitis anterior dan posterior karena tingkat tinggi efikasi dan relatif toksisitas rendah. [4, 6]
3.      Thalidomide
Thalidomide dilaporkan efektif untuk ulkus oral dan genital dan pseudofolliculitis. Meskipun intervensi terapeutik lesi ocular, sekitar 25 persen dari pasien dengan lesi mata akhirnya menjadi buta. [4, 6]
4.      Agen sitotoksik
Azathioprine, klorambusil, dan siklofosfamid membantu mencegah serangan pada mata sekitar 50 sampai 70 persen. Dalam studi tunggal, tingkat tanggapan lengkap dan parsial adalah 50 persen dengan kortikosteroid, 66 persen dengan colchicine, dan 71 persen dengan azathioprine. Azathioprine dan klorambusil juga telah dilaporkan meningkatkan prognosis visual jangka panjang. Siklosporin bermanfaat dalam 70 sampai 80 persen pasien dengan lesi okuler yang telah refrakter dengan terapi konvensional colchicine, kortikosteroid, azathioprine, dan siklofosfamid. Gangguan ginjal, hipertensi, dan hiperglikemia adalah efek samping utama dari pengobatan dengan siklosporin. Kadar serum obat harus diukur secara berkala untuk menyesuaikan dosis. Meskipun siklosporin jarang neurotoksik pada pasien dengan penyakit lain, hal itu menyebabkan gejala sistem saraf pusat tidak dapat dibedakan dari lesi neurologis klasik dalam 20 sampai 30 persen pasien dengan penyakit behcet. Sebagian besar mereda setelah penghentian obat tersebut, dan kadang-kadang tambahan terapi dengan kortikosteroid membantu untuk mengurangi gejala. Gejala pada pengobatan siklosporin dapat menyebabkan cacat sistem saraf pusat ireversibel dalam beberapa pasien. Oleh karena itu, obat ini kontraindikasi pada pasien dengan gejala neurologis dan pasien dengan lesi neurologis subklinis yang terdeteksi oleh MRI. [4, 6]
5.      Dapson
Dapsone adalah sebuah agen anti infeksi dengan kemampuan anti inflamasi yang signifikan. Meskipun mekanisme kerjanya belum sepenuhnya dipahami, namun dapsone dapat memperbaiki fungsi neutrofil dan kemotaksis. Pada umumnya dapsone digunakan pada infeksi leprae dan dermatitis hipertiformis tapi juga obat ini dapat bekerja untuk menangani inflamasi, autoimun, dan penyakit bulosa. Dapsone merupakan obat yang sangat bermanfaat pada pengobatan penyakit behcet’s karena dapat menangani gejala mukokutan pada penyakit behcet’s. [6]
6.      Interferon alfa
Pada sebuah penelitian, 95 persen dari pasien dengan masalah okular memiliki respon terhadap terapi dengan interferon alfa. Interferon alfa-2a adalah yang paling efektif untuk gejala okular. Hal itu mengakibatkan remisi lengkap gejala okular pada 67 persen dari pasien selama 4 bulan. Infus intravena globulin imun, plasmapheresis, dan granulocytapheresis juga telah dicoba pada sebagian pasien. [4, 6]
7.      Pembedahan
Pembedahan dipertimbangkan untuk pasien dengan perforasi usus dan perdarahan. Pada proses invasif bedah sering mengakibatkan infiltrasi berlebihan sel-sel inflamasi ke dalam jaringan yang diobati, dengan kebocoran anastomosis berikutnya. Untuk mencegah komplikasi, dosis menengah kortikosteroid diberikan kepada pasien selama beberapa hari setelah operasi. Bahkan jika operasi ini berhasil, operasi diulang karena kekambuhan diperlukan sekitar setengah dari pasien. Pada lesi sistem saraf pusat, kortikosteroid dengan dosis tinggi diberikan selama fase akut dengan keterlibatan neurologis[4, 6]
Obat antiinflamasi nonsteroid dan colchicine efektif untuk sebagian besar kasus arthritis pada pasien dengan penyakit behçet. Sulfasalazin juga bisa digunakan, tetapi modifikasi jenis obat antirematik ini jarang digunakan. Kortikosteroid dosis rendah dan azathioprine digunakan pada pasien dengan arthritis resisten terhadap pengobatan dengan obat antiinflamasi nonsteroid, colchicine, atau sulfasalazine. Interferon alfa juga sangat efektif. [4, 5, 6]
Terapi alternatif dapat dilengkapi dengan obat-obat sitotoksik seperti siklofosfamid, klorambusil, dan methotrexate. Meningoencephalitis di fase awal penyakit merespon dengan baik terhadap pengobatan dengan kortikosteroid. Sebaliknya, progresif penyakit kronis sistem saraf pusat yang tahan terhadap semua terapi yang tersedia saat ini. Dalam sebuah penelitian, 20 persen pasien dengan keterlibatan neurologis kronis meninggal dalam waktu tujuh tahun. Pada pembuluh darah besar, arteritis diobati dengan kombinasi kortikosteroid dan antikoagulan. Sitotoksik dan agen antiplatelet digunakan untuk trombosis vena, obat ini diberikan bersama-sama dengan pemberian jangka pendek menengah dosis antikoagulan dan kortikosteroid. Obat harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit pulmonary karena berpotensi resiko hemoptisis fatal. Setengah dari pasien meninggal dalam waktu tiga tahun setelah onset hemoptysis. Pengobatan bedah dapat dipertimbangkan untuk penyakit refraktori pembuluh darah besar. [4, 5, 6]

I.         PROGNOSIS
Penyakit behcet’s secara signifikan meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penyebab utama morbiditas pada penyakit behcet adalah uveitis dengan potensi kehilangan penglihatan dan keterlibatan neurologis. Sebagian penelitian telah membahas kematian pada sindrom behçet. Di antara 2.031 pasien di Jepang, 31,7% secara klinis memburuk, dan 0,9% meninggal selama perjalanan satu tahun tindak lanjut. Di Turki, 42 pasien dari 428 meninggal terutama karena penyakit pembuluh darah besar dan keterlibatan neurologis. [1, 4]
 
DAFTAR PUSTAKA

1.      Saadoun D, Wechsler B. Behcet’s Disease. Orphanet Journal of Rare Diseases. http://www.ojrd.com/content/7/1/20. Pdf : Paris ; 2012

2.      Sari L. M, Setyawati T. Manifestasi Behçet Disease Yang Parah Dan Komplikasi Perawatannya Dalam Rongga Mulut. Indonesian Journal of Dentistry. http:// www.fkg.ui.edu. Pdf : Jakarta ; 2008.

3.      Kovacova E, et al. Behcet’s Syndrome. Bratisl Lek Listy. http://www.ncbi.nlm.nih.gov. Pdf : Bratislava ; 2005.

4.      Sakane T, et al. Behcet Disease. The New England Journal of Medicine. http://www.nejm.org. Pdf : Massachusetts ; 2014.

5.      Wolff K, Johnson. RA. Fitzpatrick’s Color Atlas Synopsis of Clinical Dermatology. 6th edition. McGrawHill : USA ; 2009.

6.      Marshall S. E. Behcet’s Disease. Elsevier Best practice and research. http://www.sciencedirect.com. Pdf : London ; 2004.

7.      Murugan A. R, et al. Clinical Profile Of Patients With Behcet’s Disease. J Indian Rheumatol Assoc. http://www.medind.nic.in. Pdf : New Delhi ; 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar