I.
Identitas
Pasien
·
Nama :
Tn. A A N
·
Umur :
34 Tahun
·
Jenis Kelamin : Laki-laki
·
Status Pernikahan : Belum Menikah
·
Warga Negara : Indonesia
·
Suku :
Sunda
·
Alamat :
Petobo
·
Agama :
Islam
·
Pendidikan Terakhir : SMP
·
Nomor Handphone : 082343785590
II.
Anamnesis
1. Keluhan
Utama : Diam-diam
sendiri dan pelupa
2. Riwayat
Keluhan Sekarang :
Pasien
datang ke Poli jiwa dengan rujukan dari Puskemas Petobo masuk dengan keluhan sering
diam-diam sendiri dan pelupa disertai kejang-kejang sejak pasien berusia 1
setengah tahun. Keluhan awalnya dirasakan paska pasien jatuh terpeleset di
lantai hingga kepalanya terbentur ketika masih berusia 1 setengah tahun dan
pasien sempat tidak sadarkan diri selama 3 hari. Kemudian pasien demam dan
sering kejang serta tampak kemunduran dalam perilakunya seperti menjadi sering
bingung dan lupa. Keluhan semakin berat ketika pasien berusia 16 tahun,
kejang-kejang semakin sering dirasakan dan pasien menjadi sangat pelupa dan
mulai semakin sering berdiam diri. Keseharian pasien melakukan aktivitas
terjadwal sesuai dengan jamnya seperti sholat dan makan sehingga pasien
diam-diam tanpa alasan yang jelas serta tidak memikirkan sesuatu dan hanya
melihat-lihat jam untuk menunggu waktu sholat. Pasien hanya bergaul di rumah
dan mesjid setiap harinya karena pasien sangat gemar untuk beribadah. Pasien
sangat pendiam tapi mengamuk ketika diganggu atau dibuat emosi. Pasien sangat
mudah tersinggung dan sering berkecil hati ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Apabila pasien merasa kecil hati dia sering bepergian berjalan sendiri tidak
jelas dari rumah. Terkadang pasien juga mendengarkan suara seperti ada yang
berbisik memanggil-manggil namanya. Sifat pelupa juga berat, Pasien sering
melupakan apa yang dilakukannya dan juga
hingga kakak-kakak kandungnya sudah tidak dikenali. Pasien hanya
mengenal kedua orang tuanya karena setiap harinya bersama mereka.
3. Riwayat
Penyakit Sebelumnya :
·
Epilepsi (+) sejak berusia satu setengah
tahun.
·
Keluhan dirasakan semakin berat ketika
berusia 16 tahun dan kejang semakin sering muncul.
4. Riwayat
Kehidupan Pribadi
·
Saat masih balita pasien pernah jatuh
ketika berusia 1 setengah tahun, namun pasien pandai dalam menghafalkan
doa-doa.
·
Ketika masa sekolah pasien bermain
dengan normal namun sering mengamuk ketika diganggu teman-temannya. Pasien
merupakan anak yang kurang berprestasi dalam belajar.
·
Pada masa remaja kemunduran prestasi
pasien semakin nampak sehingga bersekolah hanya sampai tingkat SMP.
·
Pasien merupakan seorang yang pendiam
dan memiliki kebiasaan bergaul di mesjid dan gemar sholat.
5. Riwayat
Kehidupan Keluarga
·
Pasien tinggal bersama kedua orang
tuanya.
·
Pasien merupakan anak terakhir dari tiga
bersaudara. Dimana kedua kakaknya adalah perempuan dan sudah menikah.
·
Pasien belum menikah, dan tidak memiliki
keinginan untuk menikah karena menganggap berdosa apabila menikah.
6. Situasi
Sekarang
Pasien
sangat pendiam dan berbicara seperlunya jika diajak untuk berkomunikasi.
7. Status
Mental
·
Penampilan : Rapi dan bersih,
sesuai dengan usia.
·
Kesadaran :
Composmentis
·
Perilaku dan aktivitas : Tenang dan
baik
·
Pembicaraan : Berbicara hanya
seperlunya.
·
Sikap terhadap pemeriksa : Koperatif
·
Mood & afektif : Dalam
keadaan baik
·
Taraf kecerdasan : Kurang
·
Daya Konsentrasi : Berkurang
·
Orientasi (Waktu, tempat, orang) :
Waktu dan orang kurang, namun masih baik pada tempat.
·
Daya Ingat :
Jangka panjang buruk, jangka pendek menurun.
·
Kemampuan menolong diri sendiri : Dapat beraktivitas secara mandiri
·
Halusinasi & Ilusi :
Sering mendengar bisikan ada yang memanggil namanya.
·
Produktivitas : Baik
·
Gangguan Isi pikiran : Sering melamun
dan menghayal.
8. Tanda-Tanda
Vital
·
Tekanan Darah :110/80 mmHg
·
Nadi :
96 x/m
·
Pernafasan : 20 x/m
·
Suhu :
36° C
9. Evaluasi
Multiaxial
·
Axis I :
Gangguan Mental Organik
·
Axis II :
Tidak ada
·
Axis III :
Epilepsi
·
Axis IV :
Tidak ada
·
Axis V :
GAF 70-61
10. Rencana
Terapi
·
Antikonvulsan
·
Antipsikotik
III.
Tinjauan
Pustaka
Gangguan
Mental Organik
Gangguan mental
organic adalah gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit atau gangguan
sistemik atau otak yang dapat didiagnosis tersendiri. Gangguan mental organic
termasuk gangguanmetal simtomatik, dimana pengaruh terhadap otak merupakan
akibat sekunder dari penyakit atau gangguan sistemik di luar otak
(ekstraserebral).
Berbagai kondisi
kondisi yang diduga mempengaruhi area sistim limbic di otak mengakibatkan
terjadinya perubahan perilaku. Salah satunya yaitu epilepsy, terutama epilepsy
lobus temporalis yang pusat kejangnya berada di bagian medial lobus limbic.
EPILEPSI
Definisi
Suatu
kejang (seizure) adalah suatu gangguan patologis paroksismal sementara dalam
gangguan patologis paroksismal sementara dalam fungsi cerebral yang disebabkan
oleh pelepasan neuron yang spontan dan luas Pasien dikatakan menderita epilepsi
jika mereka mempunyai keadaan kronis yang ditandai dengan kejang yang rekuren.
Klasifikasi
Dua
kategori utama kejang adalah parsial dan umum (generalized). Kejang parsial
melibatkan aktivitas epileptiformis di daerah otak setempat; kejang umum
melibatkan keseluruhan otak. Suatu sistem klasifikasi untuk kejang.
Kejang umum
Kejang
tonik klonik umum mempunyai gejala klasik hilangnya kesadaran, gerakan tonik
klonik umum pada tungkai, menggigit lidah, dan inkotinensia. Walaupun diagnosis
peristiwa kilat dari kejang adalah relatif langsung, keadaan pascaiktal yang
ditandai oleh pemulihan kesadaran dan kognisi yang lambat dan bertahap
kadang-kadang memberikan suatu dilema diagnostik bagi dokter psiktatrik di
ruang gawat darurat. Periode pemulihan dan kejang tonik klonik umum terentang
dari beberapa menit sampai berjam-jam. Gambaran klinis adalah delirium yang
menghilang secara bertahap. Masalah psikiatrik yang paling sering berhubungan
dengan kejang umum adalah membantu pasien menyesuaikan gangguan neurologis
kronis dan menilai efek kognitif atau perilaku dan obat antiepileptik.
Absences
(Petit Mal)
Suatu
tipe kejang umum yang sulit didiagnosis bagi dokter psikiatrik adalah absence
atau kejang petitmal. Sifat epileptik dari episode mungkin berjalan tanpa
diketahui, karena manifestasi motorik atau sensorik karakteristik dari epilepsi
tidak ada atau sangat ringan sehingga tidak membangkitkan kecurigaan dokter.
Epilepsi petit mal biasanya mulai pada masa anak-anak antara usia 5 dan 7 tahun
dan menghilang pada pubertas. Kehilangan kesadaran singkat, selama mana pasien
tiba-tiba kehilangan kontak dengan hngkungan, adalah karakteristik untuk
epilepsi petit mal; tetapi, pasien tidak mengalami kehilangan kesadaran
atau gerakan kejang yang sesungguhnya selama episode. Elektroensefalogerafi (
EEG) menghasilkan pola karakteristik aktivitas paku dan gelombang (spike
and wave) tiga kali perdetik Pada keadaan yang jarang, epilepsi petitmal dengan
onset dewasa dapat ditandai oleh episode psikotik atau delirium yang tiba-tiba
dan rekuren yang tampak dan menghilane secara tiba-tiba Gejala dapat disertai
dengan riwayat terjatuh atau pingsan.
Kejang
parsial liziane parsial diklasitikasikan sebagai sederhana (tanpa perubahan
kesadaran) atau kompleks (dengan perubahan kesadaran) Sedikit lebih banyak dari
setengah semua pasien dengan kelane parsial mengalami kejang parsial kompleks;
istilah lain yang digunakan untuk kejang parsial kompleks adalah epilepsi lobus
temporalis, kejang psikomotor, dan epilepsi limbik tetapi istilah tersebut
bukan merupakan penjelasan situasi klinis yang akurat. Epilepsi parsial
kompleks adalah bentuk epilepsi pada orang dewasa yang paling senngcang
mengenai 3 dan 1.000 orang.
Gejala
praiktal
Peristiwa
praiktal (aura) pada epilepsi parsial kompleks adalah termasuk sensasi otonomik
(sebagai contohnya rasa penuh di perut, kemerahan, dan perubahan pada
pernafasan), sensasi kognitif(sebagai contohnya, deja vu, jamais vu, pikiran
dipaksakan, dan keadaan seperti mimpi). keadaan afektif (sebagai contohnya,
rasa takut, panik, depresi, dan elasi) dan secara klasik. automatisme (sebagai
contohnya, mengecapkan bibir, menggosok, dan mengayah)
Gejala Iktal
Perilaku
yang tidak terinhibisi, terdisorganisasi, dan singkat menandai serangan iktal.
Walaupun beberapa pengacara pembela mungkin mengklaim yang sebaliknya, jarang
sesorang menunjukkan perilaku kekerasan yang terarah dan tersusun selama
episode epileptik Gejala kognitif adalah termasuk amnesia untuk waktu selama
kejang dan suatu periode delirium yang menghilang setelah kejang. Pada pasien
dengan epilepsi parsial kompleks, suatu fokus kejang dapat ditemukan pada
pemeriksaan EEG pada 25 sampai 50 % dari semua pasien. Penggunaan elektroda
sfenoid atau temporalis anterior dan EEG pada saat tidak tidur dapat
meningkatkan kemungkinan ditemukannya kelainan EEG. EEG normal multipel
seringkali ditemukan dart seorang pasien dengan epilepsi parsial kompleks; dengan
demikian EEG normal tidak dapat digunakan untuk mneyingkirkan diagnosis
epilepsi parsial. kompleks- Penggunaan perekaman EEG jangka panjang (24 sampai
72 jam) dapat membantu klinisi mendeteksi suatu fokus kejang pada beberapa
pasien. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lead nasofaring tidak
menambah banyak kepekaan pada EEG, dan yang jelas menambahkan
ketidaknyamanan prosedur bagi pasien.
Gejala
Interiktal
Gangguan
kepribadian Kelainan psikiatrik yang paling sering dilaporkan pada pasien
epileptik adalah gangguan kepribadian, dan biasanya kemungkinan terjadi pada
pasien dengan epilepsi dengan asal lobus temporalis. Ciri yang paling sering
adalah perubahan perilaku seksual, suatu kualitas yang biasanya disebut
viskositas kepribadian, religiositas, dan pengalaman emosi yang melambung.
Sindroma dalam bentuk komplitnya relatif jarang, bahkan pada mereka dengan
kejang parsial kompleks dengan asal lobus temporalis. Banyak pasien
tidak mengalami perubahan kepribadian, yang lainnya mengalami berbagai gangguan
yang jelas berbeda dari sindroma klasik.
Perubahan
pada perilaku seksual dapat dimanifestasikan sebagai hiperseksualitas;
penyimpangan dalam minat seksual, seperti fetihisme dan transfetihisme; dan
yang paling sering, hiposeksualitas Hiposeksualitas ditandai oleh hilangnya
minat dalam masalah seksual dan dengan menolak rangsangan seksual Beberapa
pasien dengan onset epilepsi parsial kompleks sebelum pubertas mungkin tidak
dapat mencapai tingkat minat seksual yang normal setelah pubertas, walaupun karakteristik
tersebut mungkin tidak mengganggu pasien. Untuk pasien dengan onset
epilepsi parsial kompleks setelah pubertas. perubahan dalam minat seksual
mungkin mengganggu dan mengkhawatirkan.
Gejala
viskositas kepribadian biasanya paling dapat diperhatikan pada percakapan
pasien, yang kemungkinan adalah lambat serius, berat dan lamban, suka
menonjolkan keilmuan, penuh dengan rincian-rincian yang tidak penting, dan
seringkali berputar-putar. Pendengar mungkin menjadi bosan tetapi tidak mampu
menemukan cara yang sopan dan berhasil untuk melepaskan diri dari percakapan.
Kecenderungan pembicaraan seringkali dicerminkan dalam tulisan pasien, yang
menyebabkan suatu gejala yang dikenal sebagai hipergrafia yang dianggap oleh
beberapa klinisi sebagai patognomonik untuk epilepsi parsial komplaks.
Religiositas
mungkin jelas dan dapat dimanifestasikan bukan hanya dengan meningkatny peran
serta pada aktivitas yang sangat religius tetapi juga oleh permasalahan moral
dan etik yang tidak umum, keasyikan dengan benar dan salah, dan meningkatnya
minat pada perlahamasalahan global dan filosofi Ciri hiperreligius
kadang-kadang dapat tampak seperti gejala prodromal skizofrenia dan dapat
menyebabkan mnasalah diagnositik pada seorang remaja atau dewasa muda.
Gejala
psikotik
Keadaan
psikotik interiktal adalah lebih sering dari psikosis iktal. Episode
interpsikotik yang mirip skizofrenia dapat terjadi pada pasien dengan epilepsi,
khususnya yang berasal dan lobus temporalis Diperkirakan 10 sampal 30 persen
dari semua pasien dengan apilepsi partial kompleks mempunyai gejala psikotik
Faktor risiko untuk gejala tersebut adalah jenis kelamin wanita kidal onset
kejang selama pubertas, dan lesi di sisi kiri.
Onset
gelala psikotik pada epilepsi adalah bervariasi. Biasanya, gejala psikotik
tarnpak pada pasien yang telah menderita epilepsi untuk jangka waktu yang lama,
dan onset gejala psikotik di dahului oleh perkembangan perubahan kepribadian
yang berhubungan dengan aktivitas otak epileptik gejala psikosis yang paling
karakteristik adalah halusinasi dan waham paranoid. Biasanya. pasien tetap
hangat dan sesuai pada afeknya, berbeda dengan kelainan yang sering ditemukan
pada pasien skizofrenik Gejala gangguan pikiran pada pasien epilepsi psikotik
paling sering merupakan gejala yang melibatkan konseptualisasi dan
sirkumstansialitas, ketimbang gejala skizofrenik klasik berupa penghambatan
(blocking) dan kekenduran (looseness), kekerasan. kekerasan episodik merupakan
masalah pada beberapa pasien dengan epilepsi khususnya epilepsi lobus
temporalis dan frontalis. Apakah kekerasan merupakan manifestasi dan kejang itu
sendiri atau merupakan psikopatologi interiktal adalah tidak pasti. Sampai
sekarang ini, sebagian besar data menunjukkan sangat jarangnya kekerasan
sebagai suatu fenomena iktal. Hanya pada kasus yang jarang suatu kekerasan
pasien epileptik dapat disebabkan oleh kejang itu sendiri.
Gejala
Gangguan perasaan.
Gejala
gangguan perasaan, seperti depresi dan mania, terlihat lebih jarang pada
epilepsi dibandingkan gejala mirip skizofrenia. Gejala gangguan mood yang
terjadi cenderung bersifat episodik dan terjadi paling sering jika fokus
epileptik mengenai lobus temporalis dan hemisfer serebral non dominan.
Kepentingan gejala gangguan perasaan pada epilepsi mungkin diperlihatkan oleh
meningkatnya insidensi usaha bunuh diri pada orang dengan epilepsi.
Diagnosis
Diagnosis
epilepsi yang tepat dapat sulit khususnya jika gejala iktal dan interiktal
dari epilepsi merupakan manifestasi berat dari gejala psikiatrik tanpa adanya
perubahan yang bemakna pada kesadaran dan kemampuan kognitif Dengan demikian,
dokter psikiatrik harus menjaga tingkat kecurigaan yang tinggi selama memeriksa
seorang pasien baru dan harus mempertimbangkan kemungkman gangguan epileptik,
bahkan jika tidak ada tanda dan gejala klasik. Diagnosis banding lain yang
dipertimbangkan adalah kejang semu (psudoseizure), dimana pasien mempunyai
suatu kontrol kesadaran atas gejala kejang yang mirip.
Pada
pasien yang sebelumnya mendapatkan suatu diagnosis epilepsi, timbulnya gejala
psikiatrik yang baru harus dianggap sebagai kemungkinan mewakili suatu evolusi,
timbulnya gejala epileptiknya. timbulnya gejala psikotik, gejala gangguan mood,
perubahan kepribadian, atau gejala kecemasan (sebagai contohnya, serangan
panik) harus menyebabkan klinisi menilai pengendalian epilepsi pasien dan
memeriksa pasien untuk kemungkinan adanya gangguan mental yang tersendiri. Pada
keadaan tersebut klinisi harus menilai kepatuhan pasien terhadap regimen obat
antiepileptik dan harus mempertimbangkan apakah gejala psikotik merupakan efek
toksik dari obat antipileptik itu sendiri. Jika gejala psikotik tampak pada
seorang pasien yang pernah mempunyai epilepsi yang telah didiagnosis atau
dipertimbangkan sebagai diagnosis di masa lalu, klinisi harus mendapatkan satu
atau lebih pemeriksaan EEG.
Pada
pasien yang sebelumnya belum pernah mendapatkan diagnosis epilepsi. empat
karakteristik hams menyebabkan klinisi mencurigai kemungkinan tersebut; onset
psikosis yang tiba-tiba pada seseorang yang sebelumnya dianggap sehat secara
psikologis, onset delirium yang tiba-tiba tanpa penyebab yang diketahui,
riwayat episode yang serupa dengan onset yang mendadak dan pemulihan spontan,
dan riwayat terjatuh atau pingsan sebelumnya yang tidak dapat dijelaskan.
Pengobatan
Karbamazepin
( tegretol) dan Asam valproik (Depakene) mungkin membantu dalam mengendalikan
gejala iritabilitas dan meledaknya agresi, karena mereka adalah obat
antipsikotik tipikal Psikoterapi, konseling keluarga, dan terapi kelompok
mungkin berguna dalam menjawab masalah psikososial yang berhubungan dengan
epilepsi. Disamping itu, klinisi haru; menyadari bahwa banyak obat
antiepileptik mempunyai suatu gangguan kognitif derajat ringan sampai sedang
dan penyesuaian dosis atau penggantian medikasi harus dipertimbangkan jika
gejala gangguan kognitif merupakan suatu masalah pada pasien tertentu.
IV.
Daftar
Pustaka
Elvira SD,
Hadisukanto G, 2010. Buku Ajar Psikiatri, Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
Maslim R,
2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III,
FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
Sadock BJ,
Sadock VA, 2010, Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Ed.2,
EGC, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar