Rabu, 05 November 2014

GANGGUAN MENTAL ORGANIK



I.                   Identitas Pasien
·         Nama                                 : Tn. A A N
·         Umur                                 : 34 Tahun
·         Jenis Kelamin                    : Laki-laki
·         Status Pernikahan             : Belum Menikah
·         Warga Negara                   : Indonesia
·         Suku                                  : Sunda
·         Alamat                              : Petobo
·         Agama                               : Islam
·         Pendidikan Terakhir          : SMP
·         Nomor Handphone           : 082343785590
II.                Anamnesis
1.      Keluhan Utama                       : Diam-diam sendiri dan pelupa
2.      Riwayat Keluhan Sekarang    :
Pasien datang ke Poli jiwa dengan rujukan dari Puskemas Petobo masuk dengan keluhan sering diam-diam sendiri dan pelupa disertai kejang-kejang sejak pasien berusia 1 setengah tahun. Keluhan awalnya dirasakan paska pasien jatuh terpeleset di lantai hingga kepalanya terbentur ketika masih berusia 1 setengah tahun dan pasien sempat tidak sadarkan diri selama 3 hari. Kemudian pasien demam dan sering kejang serta tampak kemunduran dalam perilakunya seperti menjadi sering bingung dan lupa. Keluhan semakin berat ketika pasien berusia 16 tahun, kejang-kejang semakin sering dirasakan dan pasien menjadi sangat pelupa dan mulai semakin sering berdiam diri. Keseharian pasien melakukan aktivitas terjadwal sesuai dengan jamnya seperti sholat dan makan sehingga pasien diam-diam tanpa alasan yang jelas serta tidak memikirkan sesuatu dan hanya melihat-lihat jam untuk menunggu waktu sholat. Pasien hanya bergaul di rumah dan mesjid setiap harinya karena pasien sangat gemar untuk beribadah. Pasien sangat pendiam tapi mengamuk ketika diganggu atau dibuat emosi. Pasien sangat mudah tersinggung dan sering berkecil hati ketika keinginannya tidak terpenuhi. Apabila pasien merasa kecil hati dia sering bepergian berjalan sendiri tidak jelas dari rumah. Terkadang pasien juga mendengarkan suara seperti ada yang berbisik memanggil-manggil namanya. Sifat pelupa juga berat, Pasien sering melupakan apa yang dilakukannya dan juga  hingga kakak-kakak kandungnya sudah tidak dikenali. Pasien hanya mengenal kedua orang tuanya karena setiap harinya bersama mereka.
3.      Riwayat Penyakit Sebelumnya :
·         Epilepsi (+) sejak berusia satu setengah tahun.
·         Keluhan dirasakan semakin berat ketika berusia 16 tahun dan kejang semakin sering muncul.
4.      Riwayat Kehidupan Pribadi
·         Saat masih balita pasien pernah jatuh ketika berusia 1 setengah tahun, namun pasien pandai dalam menghafalkan doa-doa.
·         Ketika masa sekolah pasien bermain dengan normal namun sering mengamuk ketika diganggu teman-temannya. Pasien merupakan anak yang kurang berprestasi dalam belajar.
·         Pada masa remaja kemunduran prestasi pasien semakin nampak sehingga bersekolah hanya sampai tingkat SMP.
·         Pasien merupakan seorang yang pendiam dan memiliki kebiasaan bergaul di mesjid dan gemar sholat.
5.      Riwayat Kehidupan Keluarga
·         Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya.
·         Pasien merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Dimana kedua kakaknya adalah perempuan dan sudah menikah.
·         Pasien belum menikah, dan tidak memiliki keinginan untuk menikah karena menganggap berdosa apabila menikah.
6.      Situasi Sekarang
Pasien sangat pendiam dan berbicara seperlunya jika diajak untuk berkomunikasi.
7.      Status Mental
·         Penampilan                                                : Rapi dan bersih, sesuai dengan usia.
·         Kesadaran                                                             : Composmentis
·         Perilaku dan aktivitas                                : Tenang dan baik
·         Pembicaraan                                              : Berbicara hanya seperlunya.
·         Sikap terhadap pemeriksa                         : Koperatif
·         Mood & afektif                                         : Dalam keadaan baik
·         Taraf kecerdasan                                       : Kurang
·         Daya Konsentrasi                                      : Berkurang
·         Orientasi (Waktu, tempat, orang)             : Waktu dan orang kurang, namun masih baik pada tempat.
·         Daya Ingat                                                            : Jangka panjang buruk, jangka pendek menurun.
·         Kemampuan menolong diri sendiri           : Dapat beraktivitas secara mandiri
·         Halusinasi & Ilusi                                      : Sering mendengar bisikan ada yang memanggil namanya.
·         Produktivitas                                             : Baik
·         Gangguan Isi pikiran                                 : Sering melamun dan menghayal.
8.      Tanda-Tanda Vital
·         Tekanan Darah            :110/80 mmHg
·         Nadi                            : 96 x/m
·         Pernafasan                   : 20 x/m
·         Suhu                            : 36° C
9.      Evaluasi Multiaxial
·         Axis I              : Gangguan Mental Organik
·         Axis II             : Tidak ada
·         Axis III           : Epilepsi
·         Axis IV           : Tidak ada
·         Axis V             : GAF 70-61
10.  Rencana Terapi
·         Antikonvulsan
·         Antipsikotik

III.             Tinjauan Pustaka

Gangguan Mental Organik
Gangguan mental organic adalah gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit atau gangguan sistemik atau otak yang dapat didiagnosis tersendiri. Gangguan mental organic termasuk gangguanmetal simtomatik, dimana pengaruh terhadap otak merupakan akibat sekunder dari penyakit atau gangguan sistemik di luar otak (ekstraserebral).
Berbagai kondisi kondisi yang diduga mempengaruhi area sistim limbic di otak mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku. Salah satunya yaitu epilepsy, terutama epilepsy lobus temporalis yang pusat kejangnya berada di bagian medial lobus limbic.

EPILEPSI
Definisi
Suatu kejang (seizure) adalah suatu gangguan patologis paroksismal sementara dalam gangguan patologis paroksismal sementara dalam fungsi cerebral yang disebabkan oleh pelepasan neuron yang spontan dan luas Pasien dikatakan menderita epilepsi jika mereka mempunyai keadaan kronis yang ditandai dengan kejang yang rekuren.

Klasifikasi
Dua kategori utama kejang adalah parsial dan umum (generalized). Kejang parsial melibatkan aktivitas epileptiformis di daerah otak setempat; kejang umum melibatkan keseluruhan otak. Suatu sistem klasifikasi untuk kejang.­

Kejang umum
Kejang tonik klonik umum mempunyai gejala klasik hilangnya kesadaran, gerakan tonik klonik umum pada tungkai, menggigit lidah, dan inkotinensia. Walaupun diagnosis peristiwa kilat dari kejang adalah relatif langsung, keadaan pascaiktal yang ditandai oleh pemulihan kesadaran dan kognisi yang lambat dan bertahap kadang-kadang memberikan suatu dilema diagnostik bagi dokter psiktatrik di ruang gawat darurat. Periode pemulihan dan kejang tonik klonik umum terentang dari beberapa menit sampai berjam-jam. Gambaran klinis adalah delirium yang menghilang secara bertahap. Masalah psikiatrik yang paling sering berhubungan dengan kejang umum adalah membantu pasien menyesuaikan gangguan neurologis kronis dan menilai efek kognitif atau perilaku dan obat antiepileptik.

Absences (Petit Mal)
Suatu tipe kejang umum yang sulit didiagnosis bagi dokter psikiatrik adalah absence atau kejang petitmal. Sifat epileptik dari episode mungkin berjalan tanpa diketahui, karena manifestasi motorik atau sensorik karakteristik dari epilepsi tidak ada atau sangat ringan sehingga tidak membangkitkan kecurigaan dokter. Epilepsi petit mal biasanya mulai pada masa anak-anak antara usia 5 dan 7 tahun dan menghilang pada pubertas. Kehilangan kesadaran singkat, selama mana pasien tiba-tiba kehilangan kontak dengan hngkungan, adalah karakteristik untuk epilepsi petit mal;  tetapi, pasien tidak mengalami kehilangan kesadaran atau gerakan kejang yang sesungguhnya selama episode. Elektroensefalogerafi ( EEG)  menghasilkan pola karakteristik aktivitas paku dan gelombang (spike and wave) tiga kali perdetik Pada keadaan yang jarang, epilepsi petitmal dengan onset dewasa dapat ditandai oleh episode psikotik atau delirium yang tiba-tiba dan rekuren yang tampak dan menghilane secara tiba-tiba Gejala dapat disertai dengan riwayat terjatuh atau pingsan.
Kejang parsial liziane parsial diklasitikasikan sebagai sederhana (tanpa perubahan kesadaran) atau kompleks (dengan perubahan kesadaran) Sedikit lebih banyak dari setengah semua pasien dengan kelane parsial mengalami kejang parsial kompleks; istilah lain yang digunakan untuk kejang parsial kompleks adalah epilepsi lobus temporalis, kejang psikomotor, dan epilepsi limbik tetapi istilah tersebut bukan merupakan penjelasan situasi klinis yang akurat. Epilepsi parsial kompleks adalah bentuk epilepsi pada orang dewasa yang paling senngcang mengenai 3 dan 1.000 orang.


Gejala praiktal
Peristiwa praiktal (aura) pada epilepsi parsial kompleks adalah termasuk sensasi otonomik (sebagai contohnya rasa penuh di perut, kemerahan, dan perubahan pada pernafasan), sensasi kognitif(sebagai contohnya, deja vu, jamais vu, pikiran dipaksakan, dan keadaan seperti mimpi). keadaan afektif (sebagai contohnya, rasa takut, panik, depresi, dan elasi) dan secara klasik. automatisme (sebagai contohnya, mengecapkan bibir, menggosok, dan mengayah)

Gejala Iktal
Perilaku yang tidak terinhibisi, terdisorganisasi, dan singkat menandai serangan iktal. Walaupun beberapa pengacara pembela mungkin mengklaim yang sebaliknya, jarang sesorang menunjukkan perilaku kekerasan yang terarah dan tersusun selama episode epileptik Gejala kognitif adalah termasuk amnesia untuk waktu selama kejang dan suatu periode delirium yang menghilang setelah kejang. Pada pasien dengan epilepsi parsial kompleks, suatu fokus kejang dapat ditemukan pada pemeriksaan EEG pada 25 sampai 50 % dari semua pasien. Penggunaan elektroda sfenoid atau temporalis anterior dan EEG pada saat tidak tidur dapat meningkatkan kemungkinan ditemukannya kelainan EEG. EEG normal multipel seringkali ditemukan dart seorang pasien dengan epilepsi parsial kompleks; dengan demikian EEG normal tidak dapat digunakan untuk mneyingkirkan diagnosis epilepsi parsial. kompleks- Penggunaan perekaman EEG jangka panjang (24 sampai 72 jam) dapat membantu klinisi mendeteksi suatu fokus kejang pada beberapa pasien. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lead nasofaring tidak menambah banyak kepekaan pada EEG, dan yang jelas menambahkan ketidaknyamanan prosedur bagi pasien.

Gejala Interiktal
Gangguan kepribadian Kelainan psikiatrik yang paling sering dilaporkan pada pasien epileptik adalah gangguan kepribadian, dan biasanya kemungkinan terjadi pada pasien dengan epilepsi dengan asal lobus temporalis. Ciri yang paling sering adalah perubahan perilaku seksual, suatu kualitas yang biasanya disebut viskositas kepribadian, religiositas, dan pengalaman emosi yang melambung. Sindroma dalam bentuk komplitnya relatif jarang, bahkan pada mereka dengan kejang parsial kompleks dengan asal lobus temporalis. Banyak pasien tidak mengalami perubahan kepribadian, yang lainnya mengalami berbagai gangguan yang jelas berbeda dari sindroma klasik.
Perubahan pada perilaku seksual dapat dimanifestasikan sebagai hiperseksualitas; penyimpangan dalam minat seksual, seperti fetihisme dan transfetihisme; dan yang paling sering, hiposeksualitas Hiposeksualitas ditandai oleh hilangnya minat dalam masalah seksual dan dengan menolak rangsangan seksual Beberapa pasien dengan onset epilepsi parsial kompleks sebelum pubertas mungkin tidak dapat mencapai tingkat minat seksual yang normal setelah pubertas, walaupun karakteristik tersebut mungkin tidak mengganggu pasien. Untuk pasien dengan onset epilepsi parsial kompleks setelah pubertas. perubahan dalam minat seksual mungkin mengganggu dan mengkhawatirkan.
Gejala viskositas kepribadian biasanya paling dapat diperhatikan pada percakapan pasien, yang kemungkinan adalah lambat serius, berat dan lamban, suka menonjolkan keilmuan, penuh dengan rincian-rincian yang tidak penting, dan seringkali berputar-putar. Pendengar mungkin menjadi bosan tetapi tidak mampu menemukan cara yang sopan dan berhasil untuk melepaskan diri  dari percakapan. Kecenderungan pembicaraan seringkali dicerminkan dalam tulisan pasien, yang menyebabkan suatu gejala yang dikenal sebagai hipergrafia yang dianggap oleh beberapa klinisi sebagai patognomonik untuk epilepsi parsial komplaks.
Religiositas mungkin jelas dan dapat dimanifestasikan bukan hanya dengan meningkatny peran serta pada aktivitas yang sangat religius tetapi juga oleh permasalahan moral dan etik yang tidak umum, keasyikan dengan benar dan salah, dan meningkatnya minat pada perlahamasalahan global dan filosofi Ciri hiperreligius kadang-kadang dapat tampak seperti gejala prodromal skizofrenia dan dapat menyebabkan mnasalah diagnositik pada seorang remaja atau dewasa muda.


Gejala psikotik
Keadaan psikotik interiktal adalah lebih sering dari psikosis iktal. Episode interpsikotik yang mirip skizofrenia dapat terjadi pada pasien dengan epilepsi, khususnya yang berasal dan lobus temporalis Diperkirakan 10 sampal 30 persen dari semua pasien dengan apilepsi partial kompleks mempunyai gejala psikotik Faktor risiko untuk gejala tersebut adalah jenis kelamin wanita kidal onset kejang selama pubertas, dan lesi di sisi kiri.
Onset gelala psikotik pada epilepsi adalah bervariasi. Biasanya, gejala psikotik tarnpak pada pasien yang telah menderita epilepsi untuk jangka waktu yang lama, dan onset gejala psikotik di dahului oleh perkembangan perubahan kepribadian yang berhubungan dengan aktivitas otak epileptik gejala psikosis yang paling karakteristik adalah halusinasi dan waham paranoid. Biasanya. pasien tetap hangat dan sesuai pada afeknya, berbeda dengan kelainan yang sering ditemukan pada pasien skizofrenik Gejala gangguan pikiran pada pasien epilepsi psikotik paling sering merupakan gejala yang melibatkan konseptualisasi dan sirkumstansialitas, ketimbang gejala skizofrenik klasik berupa penghambatan (blocking) dan kekenduran (looseness), kekerasan. kekerasan episodik merupakan masalah pada beberapa pasien dengan epilepsi khususnya epilepsi lobus temporalis dan frontalis. Apakah kekerasan merupakan manifestasi dan kejang itu sendiri atau merupakan psikopatologi interiktal adalah tidak pasti. Sampai sekarang ini, sebagian besar data menunjukkan sangat jarangnya kekerasan sebagai suatu fenomena iktal. Hanya pada kasus yang jarang suatu kekerasan pasien epileptik dapat disebabkan oleh kejang itu sendiri.

Gejala Gangguan perasaan.
Gejala gangguan perasaan, seperti depresi dan mania, terlihat lebih jarang pada epilepsi dibandingkan gejala mirip skizofrenia. Gejala gangguan mood yang terjadi cenderung bersifat episodik dan terjadi paling sering jika fokus epileptik mengenai lobus temporalis dan hemisfer serebral non dominan. Kepentingan gejala gangguan perasaan pada epilepsi mungkin diperlihatkan oleh meningkatnya insidensi usaha bunuh diri pada orang dengan epilepsi.


Diagnosis
Diagnosis epilepsi yang tepat dapat sulit khususnya jika gejala iktal dan interiktal dari epilepsi merupakan manifestasi berat dari gejala psikiatrik tanpa adanya perubahan yang bemakna pada kesadaran dan kemampuan kognitif Dengan demikian, dokter psikiatrik harus menjaga tingkat kecurigaan yang tinggi selama memeriksa seorang pasien baru dan harus mempertimbangkan kemungkman gangguan epileptik, bahkan jika tidak ada tanda dan gejala klasik. Diagnosis banding lain yang dipertimbangkan adalah kejang semu (psudoseizure), dimana pasien mempunyai suatu kontrol kesadaran atas gejala kejang yang mirip.
Pada pasien yang sebelumnya mendapatkan suatu diagnosis epilepsi, timbulnya gejala psikiatrik yang baru harus dianggap sebagai kemungkinan mewakili suatu evolusi, timbulnya gejala epileptiknya. timbulnya gejala psikotik, gejala gangguan mood, perubahan kepribadian, atau gejala kecemasan (sebagai contohnya, serangan panik) harus menyebabkan klinisi menilai pengendalian epilepsi pasien dan memeriksa pasien untuk kemungkinan adanya gangguan mental yang tersendiri. Pada keadaan tersebut klinisi harus menilai kepatuhan pasien terhadap regimen obat antiepileptik dan harus mempertimbangkan apakah gejala psikotik merupakan efek toksik dari obat antipileptik itu sendiri. Jika gejala psikotik tampak pada seorang pasien yang pernah mempunyai epilepsi yang telah didiagnosis atau dipertimbangkan sebagai diagnosis di masa lalu, klinisi harus mendapatkan satu atau lebih pemeriksaan EEG.
Pada pasien yang sebelumnya belum pernah mendapatkan diagnosis epilepsi. empat karakteristik hams menyebabkan klinisi mencurigai kemungkinan tersebut; onset psikosis yang tiba-tiba pada seseorang yang sebelumnya dianggap sehat secara psikologis, onset delirium yang tiba-tiba tanpa penyebab yang diketahui, riwayat episode yang serupa dengan onset yang mendadak dan pemulihan spontan, dan riwayat terjatuh atau pingsan sebelumnya yang tidak dapat dijelaskan.



Pengobatan
Karbamazepin ( tegretol) dan Asam valproik (Depakene) mungkin membantu dalam mengendalikan gejala iritabilitas dan meledaknya agresi, karena mereka adalah obat antipsikotik tipikal Psikoterapi, konseling keluarga, dan terapi kelompok mungkin berguna dalam menjawab masalah psikososial yang berhubungan dengan epilepsi. Disamping itu, klinisi haru; menyadari bahwa banyak obat antiepileptik mempunyai suatu gangguan kognitif derajat ringan sampai sedang dan penyesuaian dosis atau penggantian medikasi harus dipertimbangkan jika gejala gangguan kognitif merupakan suatu masalah pada pasien tertentu.




IV.             Daftar Pustaka
Elvira SD, Hadisukanto G, 2010. Buku Ajar Psikiatri, Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
Maslim R, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III, FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
Sadock BJ, Sadock VA, 2010, Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Ed.2, EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar