PENDAHULUAN
Diare masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk di Indonesia, dan
merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak,
terutama usia dibawah 5 tahun.(4)
Sebagai gambaran 17%
kematian anak didunia disebabkan oleh diare sedangkan di Indonesia hasil Riskesdas
2007 diperoleh bahwa diare masih merupakan penyebab kematian bayi yang
terbanyak yaitu 42% dibanding dengan pneumonia 24%, untuk golongan 1-4 tahun
penyebab kematian karena diare 25,2 % disbanding pneumonia 15,5%. Dari daftar
urutan penyebab kunjungan puskesmas atau balai pengobatan, hampir selalu
termasuk dalam kelompok 3 penyebab utama ke puskesmas.(4)
Diare adalah penyakit
yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (>
3x perhari) yang disertai perubahan konsistensi tinja menjadi lebih lembek atau
cair dengan atau tanpa darah dan atau lendir.(5)
Terdapat banyak penyebab
diare akut pada anak. Pada sebagian besar kasus penyebabnya adalah infeksi akut
intestinum yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit, akan tetapi
berbagai penyakit lain juga dapat menyebabkan diare akut, termasuk sindrom
malabsorbsi. Diare karena virus umumnya bersifat self limting, sehingga aspek
terpenting yang harus diperhatikan adalah mencegah terjadinya dehidrasi yang
menjadi penyebab utama kematian dan menjamin nutrisi untuk proses pertumbuhan.(4)
Rotavirus merupakan
penyebab tertinggi dari kejadian diare akut baik dinegara berkembang maupun
negara maju. Di Indonesia penyebab diare
akibat Rotavirus sebanyak 60%.(3)
Cara penularan diare
pada umumnya melalui fekal oral yaitu melalui makanan atau minuman yang
tercemar oleh enteropatogen, atau kontak langsung tangan dengan penderita atau
barang-barang yang telah tercemar tinja penderita atau secara tidak langsung
melalui lalat (Field,Flies,Fingers,Fluid).(1)
Pada
laporan kasus ini, akan dibahas mengenai diare pada pasien anak yang dirawat di
Pav. Catelia RSUD UNDATA.
STATUS
PASIEN
IDENTITAS
1.
Identitas penderita
Nama penderita : An. YD
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 1 tahun 11 bulan
2.
Identitas orang
tua/wali
Nama : Ny. AMN
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. Ahmad
Yani
3.
Tanggal/Jam masuk : 28 Mei 2014 (21.50)
ANAMNESIS
Keluhan Utama : Muntah dan berak.
.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk dengan keluhan muntah-muntah
semenjak pagi sebelum masuk Rumah Sakit. Muntah sebanyak lebih dari 5x berwarna
kuning berupa makanan yang dikonsumsi dan tidak berlendir. Keluhan muntah juga
disertai dengan BAB cair berwarna kuning sebanyak 3x sejak pagi bersamaan
menyusul muntahnya. Pasien juga mengalami panas naik turun
dan menggigil sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit. Pasien sudah diberikan
obat penurun panas namun panas tetap tidak turun. Panas juga disertai dengan
batuk berlendir dan berdarah selama 3 minggu. Nafsu makan menurun. BAK lancar.
Riwayat Penyakit Sebelumnya :
Pasien pernah
dirawat di rumah sakit dengan batuk lama dan sudah mendapatkan pengobatan OAT
serta ARV.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Ayah dari pasien sudah meninggal dengan
keluhan yang serupa, dan ibunya meninggal di rumah sakit dengan HIV.
Riwayat Sosial-Ekonomi :
Pasien tergolong
dalam ekonomi menengah dengan pembiayaan rumah sakit berasal dari jaminan
kesehatan.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Riwayat
Antenatal : Kunjungan ANC rutin tiap
bulan
Riwayat
Natal
Spontan/tidak
spontan : Spontan (Normal) dan cukup bulan
Berat Badan
Lahir : 2300 gr
Penolong : Bidan
Tempat : Klinik
Bersalin
Riwayat
Neonatal : Tidak ada masalah pada
neonatal
Riwayat Tumbuh Kembang
Saat ini
pertumbuhan dan perkembangan pasien dalam keadaan baik, tidak ada gangguan
keterlambatan tumbuh kembang.
Anamnesis Makanan
Diberikan ASI
hingga usia 5 bulan, dan dibantu dengan susu formula sejak usia 5 bulan. Saat
ini pasien sudah diberikan makanan sehari-hari dalam keluarga.
Riwayat Imunisasi :
Imunisasi dasar anak lengkap, baik
Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, dan terakhir imunisasi Campak saat usia 9 bulan.
Riwayat alergi :
Tidak terdapat alergi obat.
Pemeriksaan Fisik (2 Juni 2014)
1.
Keadaan Umum : Sakit Sedang
Kesadaran : Composmentis
Berat Badan : 8 kg
Tinggi Badan :
73 cm
Status Gizi : Gizi Buruk (Z-Score < -3
SD)
2.
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : -/- mmHg
Respirasi Rate : 36x/menit
Nadi : 120 x/menit
Suhu : 37,9o C
3.
Kulit : Warna :
Sawo matang
Efloresensi : Tidak ada
Pigmentasi : Tidak ada
Sianosis : Tidak ada
Turgor : Kurang dari 2 detik
Kelembaban : Baik
Lapisan
Lemak : Baik
4.
Kepala : Bentuk :
Normocephal
Rambut :
Warna hitam, tidak mudah dicabut, dan tebal.
Mata : Palpebra :
Edema (-/-)
Konjungtiva :
Anemis (-/-)
Sklera :
Ikterus (-/-)
Refleks Cahaya :
(+/+)
Refleks Kornea :
(+/+)
Pupil :
Bulat, Isokor
Exophthalmus :
(-/-)
Telinga : Sekret : Tidak ada
Serumen : Minimal
Nyeri : Tidak ada
Hidung : Pernafasan cuping
hidung : Tidak ada
Epistaksis : Tidak ada
Sekret
:
Tidak ada
Mulut : Mukosa
bibir lembab, Oral trush (+)
Lidah : Tremor/tidak : Tidak tremor
Kotor/tidak : Tidak kotor
Warna :
Kemerahan
Faring : Tidak Hiperemis
Tonsil : T1-T1 tidak
hiperemis
5.
Leher
Pembesaran kelenjar getah bening : (+)
Nyeri tekan : (-)
Pembesaran kelenjar tiroid : (-)
Trakea :
Ditengah
Kaku kuduk : (-)
6.
Thoraks
Dinding dada/Paru-paru
Inspeksi : Normochest, simetris, retraksi (-/-).
Palpasi :
Ekspansi simetris, Fremitus Vokal Simetris, krepitasi (-/-)
Perkusi : Sonor pada lapang paru
Auskultasi : Bronchovesicular,
Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea
midclavicularis sinister
Perkusi : Pekak, batas jantung normal
Auskultasi : BJ I/II Murni regular, murmur (-), gallop (-).
7.
Abdomen
Inspeksi :
Simetris, tampak cembung, distensi (+),
cicatricks (-)
Auskultasi : Peristaltik usus (+) frekuensi meningkat.
Perkusi : Bunyi hipertimpani pada 4 quadran, pembesaran
hati (-), pembesaran spleen (-).
Palpasi : Nyeri tekan (-), Asites (-), organomegali (-).
8.
Anggota gerak
Tangan ka/ki :
Akral Dingin, edema (-), parese tidak ada.
Tungkai bawah ka/ki : Akral
Dingin, edema (-),parese tidak ada.
9.
Genital : Fimosis (-), papul eritema (+)
10.
Punggung
Skoliosis (-)
Kifosis (-)
Lordosis (-)
11.
Otot-otot : Tonus otot baik
12.
Refleks : Refleks fisiologis kesan normal, refleks patologis (-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
:
Darah rutin, Tanggal
02/06/2014
WBC = 7,6 x
109L/mm3 (4
: 11)
RBC = 3,9
x 1012L/mm3 (3,5
: 6)
PLT =
320 x 103L/mm3 (150
: 450)
HCT =
31,3 % (35
: 50)
HGB = 11,1 g/dl ( 11,5 : 16,5)
RESUME
Anak laki-laki usia 1 tahun 11 bulan
masuk dengan keluhan muntah sejak pagi sebelum masuk Rumah Sakit lebih dari 5x
berwarna kuning berupa makanan yang dikonsumsi, tidak berlendir disertai BAB
cair berwarna kuning sebanyak 3x sejak pagi bersamaan menyusul muntahnya.
Demam (+) naik turun dan menggigil sejak 3 minggu sebelum masuk rumah sakit.
Batuk (+) berlendir dan bercampur darah sekitar 3 minggu. Nafsu makan menurun.
Memiliki riwayat pengobatan OAT dan ARV, pengobatan terputus. Respirasi Rate : 36x/menit, Nadi : 120 x/menit, Suhu : 37,9o C. Pada pemeriksaan status gizi
ditemukan gizi buruk (Z score <-3 SD). Pada pemeriksaan fisik ditemukan oral trush, limfadenopati pada kelenjar
getah bening leher kiri-kanan, abdomen cembung (distensi), papul-papul eritema
pada daerah perineum.
DIAGNOSIS
Diare
Akut pada HIV AIDS + TB Paru + Gizi Kurang
TERAPI
Medikamentosa:
·
Diet
F 100 (fase Rehabilitasi)
·
Kotrimoksazole
2x1 cth
·
Zink
1x1 tab
·
Oralit
100 cc tiap kali buang air besar
·
Obat
anti tuberculosis dilanjutkan
·
Anti
retroviral : lini pertama: 2 NRTI (nucleoside analogue
reverse transcriptase inhibitors) + 1 obat NNRTI (non-nucleoside reverse
transcriptase Inhibitors) yaitu: Stavudin
(d4T), I mg/KgBB.dosis 2x sehari + Lamivudine (3TC) 4 mg/KgBB/dosis 2 x sehari +
Nevirapine (NVP) 7 mg/ kgBB/dosis 2 x sehari.
FOLLOW UP
No
|
Tanggal
dan jam
|
Vital
sign
|
Follow
up
|
1.
|
3 juni 2014, jam 07.00
|
N: 123 x/m
P: 32 x/m
S: 37,2 ºC
|
S : Berak-berak encer 5x,
ampas (+), lendir dan darah (-), muntah (-), perut kembung, batuk berlendir
(+), panas (-)
O : oral thrus (berkurang), limfadenopati (+), abdomen cembung dan
distensi
A : Gastroenteritis akut + TB
paru + HIV + gizi buruk
P: Diet F 100 (fase Rehabilitasi), Kotrimoksazole 2x1
cth, Zink 1x1 tab, Oralit 100 cc tiap kali buang air besa, Obat anti
tuberculosis dan
Anti retroviral dilanjutkan
|
2.
|
4 juni 2014, jam 07.00
|
N: 120 x/m
P: 34 x/m
S: 36,8 ºC
|
S: Berak-berak encer 3x, ampas
(+), lendir dan darah (-), muntah (-), perut kembung, batuk berlendir (+),
panas (-)
O : oral thrus (berkurang), limfadenopati (+), abdomen cembung dan
distensi
A : Gastroenteritis akut + TB
paru + HIV + gizi buruk
P : Diet F 100 (fase
Rehabilitasi), Kotrimoksazole 2x1 cth, Zink 1x1 tab, Oralit 100 cc tiap kali
buang air besa, Obat anti tuberculosis dan
Anti retroviral dilanjutkan
|
3.
|
5 juni 2014, jam 07.00
|
N: 128 x/m
P : 28 x/m
S : 37,2 ºC
|
S : Berak-berak encer 2x,
ampas (+), lendir dan darah (-), muntah (-), perut kembung, batuk berlendir
(+), panas (-)
O
: oral thrus (berkurang), limfadenopati (+), abdomen cembung dan
distensi
A : Gastroenteritis akut + TB
paru + HIV + gizi buruk
P : Diet F 100 (fase
Rehabilitasi), Kotrimoksazole 2x1 cth, Zink 1x1 tab, Oralit 100 cc tiap kali
buang air besa, Obat anti tuberculosis dan
Anti retroviral dilanjutkan
|
DISKUSI
Diare terdiri dari beberapa jenis
yang dibagi secara klinis, yaitu :
·
Diare cair akut (termasuk kolera), berlangsung selama
beberapa jam atau hari. mempunyai bahaya utama yaitu dehidrasi dan penurunan
berat badan juga dapat terjadi jika makan tidak dilanjutkan.
·
Diare akut berdarah, yang juga disebut disentri,
mempunyai bahaya utama yaitu kerusakan mukosa usus,sepsis dan gizi buruk,
mempunyai komplikasi seperti dehidrasi.
·
Diare persisten, yang berlangsung selama 14 hari atau
lebih, bahaya utamanya adalah malnutrisi dan infeksi non-usus serius dan
dehidrasi.
·
Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau
kwashiorkor) mempunyai bahaya utama adalah infeksi sistemik yang parah,
dehidrasi, gagal jantung dan kekurangan vitamin dan mineral.
Secara klinis penyebab diare dapat
dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
1.
Faktor infeksi :
a. Infeksi
enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak.
Infeksi enteral ini meliputi :
-
Infeksi bakteri : Vibrio, E.coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.
-
Infeksi virus : Enteroovirus (Virus
ECHO, Coxsackie, Poliomyelitas), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan
lain-lain.
b. Infeksi
parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti
Otitis media akut (OMA), Tonsilofaringitis, bronkopnemumonia, ensefalitis dan
sebagainya. Keadaan ini terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.
2.
Faktor malabsorbsi :
a. Malabsorbsi
karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak
yang terpenting dan tersering ialah intoleransi laktosa.
b. Malabsorbsi
lemak
c. Malabsorbsi
protein
3.
Faktor makanan : makanan basi, beracun,
alergi terhadap makanan.
Faktor
psikologis : rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat menimbulkan diare
terutama pada anak yang lebih besar
Dari gejala yang ada
pada kasus ini kemungkinan diare
akut pada
pasien disebabkan oleh faktor infeksi opportunistik, hal ini ditunjang dengan
adanya riwayat bahwa pasien positif menderita HIV AIDS. Selain itu pasien
juga mengalam TB Paru, dimana pasien juga memiliki riwayat OAT sebelumnya.
HIV adalah singkatan
Human Immunodefficiency Virus yaitu virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia sehingga membuat tubuh rentan terhadap berbagai
penyakit. Diare merupakan salah satu infeksi opportunistik yang sering dijumpai
pada anak dengan HIV/AIDS. Diare karena virus umumnya bersifat self limiting,
sehingga aspek terpenting yang harus diperhatikan adalah mencegah terjadinya
dehidrasi yang menjadi penyebab utama kematian dan menjamin nutrisi untuk
proses pertumbuhan
Salah satu hal yang
dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain adalah gizi kurang
atau malnutrisi terutama pada anak gizi buruk atau penyakit imunodefisiensi
atau imunosupresi.
Faktor penyebab diare
pada pasien dengan HIV/AIDS umumnya jarang ditemui. Hal tersebut dapat terjadi
karena diare dapat disebabkan oleh virus HIV itu sendiri. Adanya virus HIV di
dalam tubuh dapat menyebabkan enteropati dan atrofi vili parsial hingga terjadi
malabsorbsi dan diare.
Pada saat terkena
diare, epitel usus memerlukan waktu paling cepat selama 2 minggu untuk
memperbaiki kerusakan yang dialaminya. Adanya enteropati virus HIV dapat
mengakibatkan perubahan patologi yang juga dapat menyebabkan kerusakan pada
proses perbaikan dan regenerasi epitel usus tersebut.
Pada infeksi HIV
terjadi penurunan kadar CD4 dan IgA sekretorik serta peningkatan CD8 lamina
propria. Hal ini yang memacu terjadinya pertumbuhan mikroorganisme. Entamoeba
histolytica merupakan parasit penyebab diare tertinggi pada infeksi HIV, untuk
enterovirus banyak disebabkan oleh Astovirus, Picobirnavirus, Calicivirus, dan Adenovirus.
Penggunaan
ARV mampu menurunkan mortilitas HIV/AIDS. Disisi lain, adanya penggunaan ARV
juga dapat memperbaiki system imun yang dapat berdampak pada hilangnya diare.
Untuk pencegahan terjadinya diare, WHO menyarankan pemberian vitamin A untuk
pasien anak dengan HIV/AIDS usia enam bulan hingga 5 tahun setiap enam bulan
sekali dengan dosis 100.000 IU untuk anak 6-12 bulan dan 200.000 IU untuk anak
diatas 12 bulan. Untuk penanganan diare WHO menyarankan pemberian oralit,
supplement zinc selama 10-14 hari, ciprofloxacin selama tiga hari dengan dosis
15 mg/kgBB untuk mengobati diare berdarah, dan mikronutrien selama dua minggu
untuk diare persisten.
Klasifikasi
|
Tanda-tanda atau gejala
|
Terapi
|
Dehidrasi
berat
|
Terdapat dua
atau lebih dari tanda di bawah ini :
·
Letargis/tidak sadar
·
Mata cekung
·
Tidak bisa minum atau malas minum
·
Turgor kembali sangat lambat (>2 detik)
|
Rencana
terapi C
|
Dehidrasi
ringan/sedang
|
Terdapat dua
atau lebih dari tanda di bawah ini :
·
Rewel, gelisah
·
Mata cekung
·
Minum dengan lahap, haus
·
Turgor kembali lambat
|
Rencana
terapi B
|
Tanpa
dehidrasi
|
Tidak
terdapat cukup tanda untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi ringan atau
berat.
|
Rencana
terapi A
|
Tata laksana dari penangan diare
dengan dehidrasi berdasarkan WHO :
1. Rencana
terapi A :
-
Jelaskan pada ibu untuk memberikan asi lebih sering
dan lebih lama
-
Berikan oralit dan air matang sebagai tambahan
-
Anak harus diberikan oralit apabila anak telah diobati
oleh Rencana terapi B atau C atau anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya
bertambah berat
Ajari pada ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6 bungkus oralit (200ml) untuk digunakan dirumah. Tunjukan pada ibu berapa banyak cairan termasuk
oralit yang harus diberikan sebagai tambahan bagi
kebutuhan cairanya sehari-hari:
-
Sampai umur 1 tahun :
50-100ml setiap kali berak
-
Umur 1 tahun - 5 tahun : 100-200ml setiap
kali berak
·
Berikan tablet zinc selama 10 hari.(umur
2-6 bulan : ½ tablet/ umur >6 bulan : 1 tablet)
·
Lanjutkan pemberian makan.
2. Rencana
terapi B
·
Tentukan jumlah oralit untuk 3 jam
pertama (BB x 75ml). jika anak menginginkan boleh diberi lebih. Jika anak muntah,
tunggu 10 menit kemudian berikan lagi lebih lambat. Lanjutkan asi selama anak
mau.
·
Berikan tablet zinc selama 10 hari.(umur
2-6 bulan : ½ tablet/ umur >6 bulan : 1 tablet)
·
Setelah 3 jam ulangi penilaian dan
klasifikasi kembali derajat dehidrasinya.
3. Rencana
terapi C
·
Berikan cairan intravena secepatnya (100ml/kgbb
cairan RL), jika anak bisa minum berikan oralit.
Umur
|
Pemberian pertama 30ml/kgBB selama
|
Pemebrian berikut 70ml/kgBB selama
|
Bayi (dibawah umur12 bulan)
|
1 jam*
|
5 jam
|
Anak (12 bulan sampai
5 tahun)
|
30
menit* 2 ½ jam
|
|
·
Ulangi sekali lagi jika denyut nadi
sangat lemah atau tidak teraba
·
Periksa kembali anak setiap 15-30 menit.
Jika nadi tidak teraba beri tetesan lebih cepat.
·
Berikan oralit (kira-kira 5ml/kgbb/jam)
segera setelah anak mau minum
·
Berikan tablet zinc selama 10 hari.(umur
2-6 bulan : ½ tablet/ umur >6 bulan : 1 tablet).
·
Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau
anak sesudah 3 jam. Klasifikasi kembali
dehidrasi dan pilih rencana terapi yang sesuai.
Pada
kasus diare diberikan Zinc karena zinc dapat mengurangi lama dan
beratnya diare. Zinc juga
dapat mengembalikan nafsu
makan anak. Zinc termasuk
mikronutrien yang mutlak dibutuhkan
untuk memelihara kehidupan
yang optimal. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam
pengobatan diare
akut didasarkan pada efeknya terhadap imun atau terhadap
struktur dan fungsi saluran cerna dan
terhadap proses perbaikan
epitel saluran cerna selama diare.
Pemberian zinc pada
diare dapat meningkatkan absorbsi air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah
brush border apical, dan meningkatkan respon
imun yang mempercepat pembersihan patogen di
usus.
Pengobatan dengan zinc cocok ditetapkan di negara-negara berkembang seprti Indonesia yang
memiliki banyak masalah terjadinya kekurangan
zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan yang rendah dan daya imunitasnya yang kurang memadai. Pemberian zinc dapat
menurunkan risiko
terjadinya dehidrasi pada anak.
Pada kasus diare ada
beberapa nasehat yang harus diberikan kepada orang tua, antara lain:
1.
Tetap memberikan makanan yang biasa
dimakan oleh anak. Makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering (lebih
kurang 6x sehari) serta rendah serat. Buah-buahan diberikan terutama pisang.
Makanan yang merangsang (pedas, asam, terlalu banyak lemak) jangan diberikan
dulu karena dapat menyebabkan diare bertambah berat.
2.
Selalu menjaga kebersihan dalam
menyiapkan makanan pada anak dengan cara mencuci tangan sebelum dan sesudah
menyiapkan makanan. Jika anak diberi susu formula kebersihan dari botol susu
harus diperhatikan serta mengganti susu setiap 2 jam.
Prognosis
untuk pasien diare akut tanpa dehidrasi, baik apabila kita tangani diare dan
dehidrasi dengan tepat dan cepat. Namun pada pasien ini prognosisnya menjadi
buruk dikarenakan pasien positif menderita HIV AIDS. Setiap episode diare akut
pada pasien HIV meningkatkan resiko 1,5 kali untuk terjadinya diare persisten.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
FKUI, 1985. Ilmu Kesehatan Anak jilid 1.
Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
2.
Juffrie, M. Dkk. Buku Ajar
Gastroenterologi-hepatologi, jilid I. Badan Penerbit IDAI. Jakarta
3.
Sonarto et al. Burden of severe
Rotavirus Diarrhea In Indonesia. The Journal Of Infectious Disease 200:S188-94,
2009
4.
Subagyo, B, Santoso NB. Buku Ajar
Gastrologi-Hepatologi Jilid 1, Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit Ukk
Gastroenterologi-Hepatologi IDAI 2010:87-110
5.
Suraatmaja sudaryat. Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto.2007:1-24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar