I.
Identitas
Pasien
·
Nama :
Tn. A B
·
Umur :
62 Tahun
·
Jenis Kelamin : Laki-laki
·
Status Pernikahan : Menikah
·
Warga Negara : Indonesia
·
Alamat :
Jl. Gelatik, no.48
·
Agama :
Islam
II.
Deskripsi
Pasien
1. Anamnesis
Laki-laki
62 tahun masuk dengan keluhan susah tidur disertai dengan jantung
berdebar-debar sejak sekitar 5 tahun yg lalu muncul paska pensiun kerja secara
tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Pasien merasa tidak bisa tidur karena
gelisah tanpa sebab. Ketika pasien mencoba untuk tidur hanya berguling-guling
kesana kemari tidak jelas di tempat tidur dan tidak bisa tertidur. Pasien juga
sering memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan dan kalau melihat sesuatu
pada siang hari jadi terus terpikirkan pada malam hari. Pasien juga mengeluhkan
sering merasa takut, dan sering berkeringat dingin. Pasien hanya bisa tidur
jika meminum obat tidur. 2 tahun yang lalu pasien sering mendengar adanya
bisikan seperti ada yang memanggil-manggil dirinya namun sekarang sudah tidak.
Pasien juga memiliki riwayat hipertensi dan penyakit jantung. Pasien merupakan
seorang pensiunan dan sekarang bekerja wiraswasta percetakan.Sebelumnya pasien
memiliki kebiasaan tidur yang normal, kesulitan tidur dirasakan paska pasien
pensiun kerja. Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.Pasien memiliki
seorang istri dan 4 orang anak, 3 anak laki-laki dan 1 perempuan Pasien tidak
tidur selama 3 hari terakhir karena tidak minum obat tidur. Pasien bisa tidur
jika meminum obat tidur. Pasien merasa tidak nyaman karena belum tidur
2. Status
Mental
·
Penampilan :
Rapi dan bersih
·
Kesadaran :
Composmentis
·
Perilaku dan aktivitas :
Tenang dan baik
·
Pembicaraan :
Dapat berbicara dengan teratur
·
Sikap terhadap pemeriksa : Koperatif
·
Mood & afektif : Dalam
keadaan baik
·
Taraf kecerdasan : Baik
·
Daya Konsentrasi : Berkurang
·
Orientasi (Waktu, tempat, orang) : Baik
·
Daya Ingat :
Baik
·
Kemampuan menolong diri sendiri : Dapat beraktivitas secara mandiri
·
Halusinasi & Ilusi : 2 tahun lalu sering mendengar bisikan
·
Produktivitas : Baik
·
Gangguan Isi pikiran :
Sering memikirkan hal yang tidak perlu
3. Tanda-tanda
vital
·
Tekanan Darah :110/60 mmHg
·
Nadi :
96 x/m
·
Pernafasan : 20 x/m
·
Suhu :
36° C
III.
Emosi
Yang Terlibat
·
Positif
ü Pasien
masih bisa beraktivitas meskipun mengalami kesulitan tidur
·
Negatif
ü Keluhan
sulit tidur dirasakan paska pensiun kerja.
ü Pasien
sepertinya menjadi ketergantungan obat tidur.
IV.
Pengalaman
·
Positif
ü Pasien
masih bisa menjalankan usaha percetakan meski sulit tidur.
·
Negatif
ü Pasien
mencoba untuk tidak mengkonsumsi obat tidur selam 3 hari dan sama sekali tidak
bisa tidur jika tidak minum obat tidur.
V.
Analisis
Tidur adalah keadaan organisme yang
teratur, berulang, dan mudah dibalikkan yang ditandai oleh relatif tidak
bergerak dan peningkatan besar ambang respons terhadap stimuli eksternal
relatif dari keadaan terjaga.
Sebagian besar peneliti menyimpulkan
bahwa tidur memiliki fungsi restoratif dan homeostatik dan tampaknya penting
untuk termoregulasi dan cadangan energi normal.
Tidur dibagi
menjadi tidur rapid eye movement (REM) dan tidur bukan REM. Tidur bukan REM
memiliki 4 tahap, setiap tahap lebih dalam. Tahap 3 dan 4 merupakan tahap tidur
restoratif, yang juga disebut gelombang lambat atau tahap tidur delta.
Penurunan waktu dalam tahap 3 dan 4 menurunkan kualitas tidur. Tidur tahap 5
disebut tidur REM. Pada saat seseorang bertambah usia, tahap 3 dan 4 dari tidur
berkurang, dan fase 1 menjadi lebih lama sehingga tidur tahap restoratif
menjadi berkurang. Bangun tengah malam menjadi sering sehingga tidur menjadi
terputus-putus. Oleh karena itu keluhan sulit tidur menjadi lebih sering pada
orang tua.
Periode
kekurangan tidur yang panjang kadang menyebabkan disorganisasi ego, halusinasi,
dan waham.
Gangguan
tidur dapat dibagi menjadi gangguan instrinsik dan ekstrinsik. Gangguan
ekstrinsik meliputi higiene tidur, penggunaan narkoba, dan stres situasional.
Gangguan intrinsik meliputi insomnia psikofisiologik, insomnia primer atau
idiopatik, apnea obstruktif saat tidur, gangguan tidur akibat rotasi kerja, dan
gangguan irama sirkardian. Gangguan irama sirkardian meliputi gangguan fase
tidur tahap lanjut dan gangguan fase tidur tipe lambat
Gangguan
tidur pada pasien ini adalah gangguan tidur instrinsik, insomnia persiten.
Gangguan ini terdiri dari sekelompok kondisi dimana masalah yang paling sering
adalah kesulitan dalam jatuh tertidur, bukannya dalam tetap tertidur, dan
melibatkan dua masalah yang kadang-kadang terpisah tetapi sering digabungkan
yaitu ketegangan dan kecemasan yang disomatisasi, dan suatu respons asosiatif
yang terbiasakan.
Pasien
mengeluh adanya perasaan kegelisahan atau pikiran yang terus-menerus yang
tampaknya menghalangi pasien untuk tidur.
VI.
Evaluasi
Prinsip penanganan
insomnia secara umum
yaitu mengidentifikasi faktor
penyebab, dimana fokus utama dari pengobatan insomnia harus diarahkan
pada identifikasi faktor penyebab. Setelah faktor penyebab teridentifikasi maka
penting untuk mengontrol dan mengelola
masalah yang mendasarinya, karena hanya dengan mengobati insomnia saja tanpa
menangani penyebab utamanya jarang memberikan hasil. Pada kebanyakan kasus
insomnia dapat disembuhkan jika penyebab medis atau psikiatri di evaluasi dan
diobati dengan benar. Selain
itu perlu adanya
kontrol lingkungan seperti
meredupkan lampu kamar tidur
sebelum tidur, membatasi kebisingan dan menghindari kegiatan di tempat tidur
kecuali hanya untuk tidur dan sex.
Selain mencari
faktor penyebab dan
juga kontrol lingkungan
penanganan selanjutnya yang penting
yaitu dengan pemberian
terapi non-farmakologi dan farmakologi dimana pemberian terapi ini diberikan secara kombinasi.
Prinsip dasar
penanganan terapi farmakologi
yaitu: Jangan menggunakan
obat hipnotik sebagai satu-satunya
terapi pengobatan maka
harus dikombinasikan dengan terapi non farmakologi.
Pemberian
obat golongan hipnotik dimulai dengan dosis
yang rendah selanjutnya dinaikan
perlahan-lahan sesuai kebutuhan,
Hindari penggunaan benzodiazepin
jangka panjang, hati-hati
penggunaan obat golongan hipnotik khususnya benzodiazepin pada
pasien dengan riwayat penyalahgunaan atau ketergantungan obat,
monitor pasien untuk melihat
apakah ada toleransi
obat atau ketergantungan obat
atau penghentian penggunaan
obat, Memberikan edukasi kepada pasien efek penggunaan obat hipnotik
yaitu mual dan kecelakaan saat mengemudi atau bekerja, khususnya
golongan obat jangka
panjang, Melakukan tapering
obat secara perlahan untuk
menghindari penghentian obat
dan terjadi rebound
insomnia. Terapi pengobatan
insomnia diklasifikasikan menjadi tiga
yaitu : Benzodiazepin, Nonbenzodiazepin-hipnotik, dan obat-obat yang
lain yg dapat memberikan efek tertidur.
1. Evaluasi
Multiaxial
·
Axis I : Gangguan Tidur Insomnia Persisten
·
Axis II : Sulit tidur, gelisah, cemas.
·
Axis III :
Palpitasi
·
Axis IV :
Pensiun Kerja
·
Axis V : GAF 80-71
2. Rencana
Terapi
·
Psikoterapi (Edukasi, CBT-I)
ü Sleep
hygine
ü Sleep
restriction
ü Relaxation
therapy
ü Stimulus
control therapy
·
Terapi Farmakologi
ü Sedatif-hipnotik
v Anjuran
·
Pasien dianjurkan untuk keluar dari
ruang tidur jika tidak dapat tertidur dalam waktu 20 menit. Pasien dianjurkan
untuk kembali ke tempat tidur jika merasa benar-benar mengantuk. Pola ini
dilakukan berulang-ulang sepanjang malam. Pasien harus menghindari aktivitas
lain seperti membaca ataupun menonton televisi.
·
Pasien diberi terapi tingkah laku
mengenai manfaat tidur, apa yang diharapkan dari tidur sehingga persepsi pasien
tentang tidur menjadi lebih baik.
·
Pasien diminta untuk bangun pada jam
yang sama setiap hari tanpa memperhitungkan lamanya tidur dan tidak
beristirahat siang hari.
·
Berolahraga secara teratur, tetapi tidak
dilakukan menjelang waktu tidur.
·
Mengurangi makan dan minum menjelang
waktu tidur
·
Melakukan metode relaksasi seperti
meditasi
3. Prognosis
dubia et bonam
VII.
Kesimpulan
·
Penanganan pada pasien ini diperlukan
perhatian khusus untuk memfollow up perkembangan tidurnya dan mengetahui apa
penyebab gangguan tidur, sehingga penanganan gangguan tidur difokuskan pada
penyebab utama gangguan tidurnya.
·
Pada pengobatan farmakologi harus
dikombinasikan dengan terapi non farmakologi berupa psikoterapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar