Rabu, 05 November 2014

INSOMNIA PERSISTEN



I.                   Identitas Pasien
·         Nama                                 : Tn. A B
·         Umur                                 : 62 Tahun
·         Jenis Kelamin                    : Laki-laki
·         Status Pernikahan             : Menikah
·         Warga Negara                   : Indonesia
·         Alamat                              : Jl. Gelatik, no.48
·         Agama                               : Islam
II.                Deskripsi Pasien
1.      Anamnesis
Laki-laki 62 tahun masuk dengan keluhan susah tidur disertai dengan jantung berdebar-debar sejak sekitar 5 tahun yg lalu muncul paska pensiun kerja secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Pasien merasa tidak bisa tidur karena gelisah tanpa sebab. Ketika pasien mencoba untuk tidur hanya berguling-guling kesana kemari tidak jelas di tempat tidur dan tidak bisa tertidur. Pasien juga sering memikirkan sesuatu yang tidak perlu dipikirkan dan kalau melihat sesuatu pada siang hari jadi terus terpikirkan pada malam hari. Pasien juga mengeluhkan sering merasa takut, dan sering berkeringat dingin. Pasien hanya bisa tidur jika meminum obat tidur. 2 tahun yang lalu pasien sering mendengar adanya bisikan seperti ada yang memanggil-manggil dirinya namun sekarang sudah tidak. Pasien juga memiliki riwayat hipertensi dan penyakit jantung. Pasien merupakan seorang pensiunan dan sekarang bekerja wiraswasta percetakan.Sebelumnya pasien memiliki kebiasaan tidur yang normal, kesulitan tidur dirasakan paska pasien pensiun kerja. Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.Pasien memiliki seorang istri dan 4 orang anak, 3 anak laki-laki dan 1 perempuan Pasien tidak tidur selama 3 hari terakhir karena tidak minum obat tidur. Pasien bisa tidur jika meminum obat tidur. Pasien merasa tidak nyaman karena belum tidur
2.      Status Mental
·         Penampilan                                          : Rapi dan bersih
·         Kesadaran                                           : Composmentis
·         Perilaku dan aktivitas                          : Tenang dan baik
·         Pembicaraan                                        : Dapat berbicara dengan teratur
·         Sikap terhadap pemeriksa                   : Koperatif
·         Mood & afektif                                   : Dalam keadaan baik
·         Taraf kecerdasan                                 : Baik
·         Daya Konsentrasi                                : Berkurang
·         Orientasi (Waktu, tempat, orang)       : Baik
·         Daya Ingat                                          : Baik
·         Kemampuan menolong diri sendiri     : Dapat beraktivitas secara mandiri
·         Halusinasi & Ilusi                                : 2 tahun lalu sering mendengar bisikan
·         Produktivitas                                       : Baik
·         Gangguan Isi pikiran                           : Sering memikirkan hal yang tidak perlu
3.      Tanda-tanda vital
·         Tekanan Darah            :110/60 mmHg
·         Nadi                            : 96 x/m
·         Pernafasan                   : 20 x/m
·         Suhu                            : 36° C
III.             Emosi Yang Terlibat
·         Positif
ü  Pasien masih bisa beraktivitas meskipun mengalami kesulitan tidur
·         Negatif
ü  Keluhan sulit tidur dirasakan paska pensiun kerja.
ü  Pasien sepertinya menjadi ketergantungan obat tidur.
IV.             Pengalaman
·         Positif
ü  Pasien masih bisa menjalankan usaha percetakan meski sulit tidur.
·         Negatif
ü  Pasien mencoba untuk tidak mengkonsumsi obat tidur selam 3 hari dan sama sekali tidak bisa tidur jika tidak minum obat tidur.


V.                Analisis
Tidur adalah keadaan organisme yang teratur, berulang, dan mudah dibalikkan yang ditandai oleh relatif tidak bergerak dan peningkatan besar ambang respons terhadap stimuli eksternal relatif dari keadaan terjaga.
Sebagian besar peneliti menyimpulkan bahwa tidur memiliki fungsi restoratif dan homeostatik dan tampaknya penting untuk termoregulasi dan cadangan energi normal.
Tidur dibagi menjadi tidur rapid eye movement (REM) dan tidur bukan REM. Tidur bukan REM memiliki 4 tahap, setiap tahap lebih dalam. Tahap 3 dan 4 merupakan tahap tidur restoratif, yang juga disebut gelombang lambat atau tahap tidur delta. Penurunan waktu dalam tahap 3 dan 4 menurunkan kualitas tidur. Tidur tahap 5 disebut tidur REM. Pada saat seseorang bertambah usia, tahap 3 dan 4 dari tidur berkurang, dan fase 1 menjadi lebih lama sehingga tidur tahap restoratif menjadi berkurang. Bangun tengah malam menjadi sering sehingga tidur menjadi terputus-putus. Oleh karena itu keluhan sulit tidur menjadi lebih sering pada orang tua.
Periode kekurangan tidur yang panjang kadang menyebabkan disorganisasi ego, halusinasi, dan waham.
Gangguan tidur dapat dibagi menjadi gangguan instrinsik dan ekstrinsik. Gangguan ekstrinsik meliputi higiene tidur, penggunaan narkoba, dan stres situasional. Gangguan intrinsik meliputi insomnia psikofisiologik, insomnia primer atau idiopatik, apnea obstruktif saat tidur, gangguan tidur akibat rotasi kerja, dan gangguan irama sirkardian. Gangguan irama sirkardian meliputi gangguan fase tidur tahap lanjut dan gangguan fase tidur tipe lambat
Gangguan tidur pada pasien ini adalah gangguan tidur instrinsik, insomnia persiten. Gangguan ini terdiri dari sekelompok kondisi dimana masalah yang paling sering adalah kesulitan dalam jatuh tertidur, bukannya dalam tetap tertidur, dan melibatkan dua masalah yang kadang-kadang terpisah tetapi sering digabungkan yaitu ketegangan dan kecemasan yang disomatisasi, dan suatu respons asosiatif yang terbiasakan.
Pasien mengeluh adanya perasaan kegelisahan atau pikiran yang terus-menerus yang tampaknya menghalangi pasien untuk tidur.
VI.             Evaluasi
Prinsip  penanganan  insomnia  secara  umum  yaitu  mengidentifikasi  faktor  penyebab, dimana fokus utama dari pengobatan insomnia harus diarahkan pada identifikasi faktor penyebab. Setelah faktor penyebab teridentifikasi maka penting untuk  mengontrol dan mengelola masalah yang mendasarinya, karena hanya dengan mengobati insomnia saja tanpa menangani penyebab utamanya jarang memberikan hasil. Pada kebanyakan kasus insomnia dapat disembuhkan jika penyebab medis atau psikiatri di evaluasi dan diobati dengan  benar.  Selain  itu  perlu  adanya  kontrol  lingkungan  seperti  meredupkan  lampu kamar tidur sebelum tidur, membatasi kebisingan dan menghindari kegiatan di tempat tidur kecuali hanya untuk tidur dan sex.
Selain  mencari  faktor  penyebab  dan  juga  kontrol  lingkungan    penanganan selanjutnya   yang   penting   yaitu   dengan   pemberian   terapi   non-farmakologi   dan farmakologi dimana pemberian terapi  ini diberikan secara kombinasi.
Prinsip  dasar  penanganan  terapi  farmakologi  yaitu:  Jangan  menggunakan  obat hipnotik  sebagai  satu-satunya  terapi  pengobatan  maka  harus  dikombinasikan  dengan terapi non farmakologi.
Pemberian obat golongan hipnotik dimulai dengan dosis  yang rendah  selanjutnya  dinaikan  perlahan-lahan  sesuai  kebutuhan,  Hindari  penggunaan benzodiazepin jangka   panjang,   hati-hati   penggunaan   obat   golongan hipnotik khususnya   benzodiazepin   pada   pasien   dengan riwayat   penyalahgunaan   atau ketergantungan  obat,  monitor pasien  untuk  melihat  apakah  ada  toleransi  obat  atau ketergantungan  obat  atau  penghentian  penggunaan  obat, Memberikan  edukasi  kepada pasien efek penggunaan obat hipnotik yaitu mual dan kecelakaan saat mengemudi atau bekerja,  khususnya  golongan  obat  jangka  panjang,  Melakukan  tapering  obat  secara perlahan  untuk  menghindari  penghentian  obat  dan  terjadi  rebound  insomnia.  Terapi pengobatan insomnia diklasifikasikan    menjadi    tiga    yaitu : Benzodiazepin, Nonbenzodiazepin-hipnotik, dan obat-obat  yang  lain  yg  dapat memberikan  efek tertidur.
1.      Evaluasi Multiaxial
·         Axis I              : Gangguan Tidur Insomnia Persisten
·         Axis II             : Sulit tidur, gelisah, cemas.
·         Axis III           : Palpitasi
·         Axis IV           : Pensiun Kerja
·         Axis V             : GAF 80-71
2.      Rencana Terapi
·         Psikoterapi (Edukasi, CBT-I)
ü  Sleep hygine
ü  Sleep restriction
ü  Relaxation therapy
ü  Stimulus control therapy
·         Terapi Farmakologi
ü  Sedatif-hipnotik
v  Anjuran
·         Pasien dianjurkan untuk keluar dari ruang tidur jika tidak dapat tertidur dalam waktu 20 menit. Pasien dianjurkan untuk kembali ke tempat tidur jika merasa benar-benar mengantuk. Pola ini dilakukan berulang-ulang sepanjang malam. Pasien harus menghindari aktivitas lain seperti membaca ataupun menonton televisi.
·         Pasien diberi terapi tingkah laku mengenai manfaat tidur, apa yang diharapkan dari tidur sehingga persepsi pasien tentang tidur menjadi lebih baik.
·         Pasien diminta untuk bangun pada jam yang sama setiap hari tanpa memperhitungkan lamanya tidur dan tidak beristirahat siang hari.
·         Berolahraga secara teratur, tetapi tidak dilakukan menjelang waktu tidur.
·         Mengurangi makan dan minum menjelang waktu tidur
·         Melakukan metode relaksasi seperti meditasi
3.      Prognosis dubia et bonam
VII.          Kesimpulan
·         Penanganan pada pasien ini diperlukan perhatian khusus untuk memfollow up perkembangan tidurnya dan mengetahui apa penyebab gangguan tidur, sehingga penanganan gangguan tidur difokuskan pada penyebab utama gangguan tidurnya.
·         Pada pengobatan farmakologi harus dikombinasikan dengan terapi non farmakologi berupa psikoterapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar