Rabu, 05 November 2014

GANGGUAN PANIK



I.                   Pendahulan
Diantara beberapa gangguan cemas yang dikenal, gangguan panic merupakan gangguan yang lebih sering dijumpai akhir-akhir ini. Dari penelitian diketahui bahwa di Negara-negara barat, gangguan panic dialami lebih kurang 1,7% dari populasi orang dewasa. Angka kejadian sepanjang hidup gangguan panic dilaporkan 1,5% - 5%, sedangkan serangan panic sebanyak 3% - 5,6% di Indonesia belum dilakukan studi epidemiologi yang dapat menggambarkan berapa jumlah individu yang mengalami gangguan panic, namun para professional merasakan adanya peningkatan jumah kasus yang dating minta pertolongan (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Prevalensi sepanjang hidup gangguan panic dilaporkan 1,5% - 5%, sedangkan serangan panik sebanyak 3% - 5,6%. Suatu penelitian di Texas terhadap lebih dari 1600 sampel yang diseleksi secara acak, didapatkan angka prevalensi sepanjang hidup 3,8% untuk gangguan panik, 5,6% untuk serangan panic, serta 2,2% mengalami serangan panic dengan gejala yang terbatas dan tidak memenuhi kriteria diagnostik. Gangguan panic pada perempuan 2/3 dari laki-laki. Pada umumnya terjadi pada usia dewasa muda sekitar 25 tahun, tetapi bisa terjadi pada usia berapapun, termasuk anak-anak dan remaja (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Sembilan puluh satu persen pasien dengan gangguan panic dan 84% yang agrofobia mengalami setidaknya satu gangguan psikiatrik lainnya. Sepuluh hingga 15% pasien dengan gangguan panik juga mengalami gangguan depresi berat. Sepertiga diantaranya mengalami gangguan depresi sebelum awitan gangguan panik, serta sisanya mengalami serangan panic selama atau sesudah awitan gangguan depresi berat (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Anxietas juga sering terdapat pada gangguan panic dengan agoraphobia limabelas sampai 30% mengalami fobia sosial, 2–20% terdapat fobia spesifik dan 15-30% mengalami gangguan kecemasan hingga 30% mengalami gangguan obsesif sampai konvulsif (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Kondisi komorbiditas lainnya antara lain hipokondriasis, gangguan kepribadian, gangguan penggunaan zat (Elvira & Hadisukanto, 2010).
II.                Definisi
Istilah “panik” berasal dari kata Pan, dewa Yunani yang setengah hantu, tinggal dipegunungan dan hutan, dan perilakunya sangat sulit diduga. Di tahun 1895 deskripsi gangguan panik pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam kasus agorafobia. Serangan panik merupakan ketakutan akan timbulnya serangan serta diyakini akan segera terjadi. Individu yang mengalami serangan panik berusaha untuk melarikan diri dari keadaan yang tidak pernah diprediksi (Kaplan & Sadock, 2010).
Gangguan panik merupakan kelainan medis berupa serangan panik berulang dan sering yang tidak disebabkan oleh penggunaan zat atau obat atau gangguan jiwa lain dengan puncaknya adalah perasaan takut, perasaan tidak nyaman dan khawatir berlebihan (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Menurut DSM-IV, gangguan panik adalah gangguan yang sekurang-kurangnya terdapat 3 serangan panik dalam waktu 3 minggu dan tidak dalam kondisi berat atau dalam situasi yang mengancam kehidupan. Gangguan panik bersifat rekuren (kambuh) dan akan mengakibatkan terjadinya serangan panik yang tidak diduga-duga dan mencapai puncaknya kurang dari menit (Maslim, 2001).
Gangguan panik adalah ditandai dengan terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak diperkirakan. Serangan panik adalah periode kecemasan atau ketakutan yang kuat dan relative singkat (biasanya kurang dari satu tahun), yang disertai oleh gejala somatik tertentu seperti palpitasi dan takipnea. Frekuensi pasien dengan gangguan panik mengalami serangan panik adalah bervariasi dari serangan multiple dalam satu hari sampai hanya beberapa serangan selama setahun. Di Amerika Serikat, sebagian besar peneliti dibidang gangguan panik percaya bahwa agoraphobia hampir selalu berkembang sebagai suatu komplikasi pada pasien yang memiliki gangguan panik (Kaplan & Sadock, 2010).

III.             Epidemiologi
Laporan epidemiologi telah melaporkan prevalensi seumur hidup untuk gangguan panik adalah 1,5-3 persen dan untuk serangan panic adalah 3-4 persen. Penelitian telah menggunakan kriteria DSM-III, yang lebih terbatas dibandingkan criteria di dalam edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R) dan DSM IV; dengan demikian, prevalensi seumur hidup yang sesungguhnya kemungkinan lebih tinggi dari angka tersebut. Sebagai contoh, satu penelitian terakhir pada lebih dari 1.600 orang dewasa yang dipilih secara acak di Texas menemukan bahwa angka prevalensi seumur hidup adalah 3,8% untuk gangguan panic, 5,6% untuk serangan panic, dan 2,2% untuk serangan panic dengan gejala yang terbatas yang tidak memenuhi criteria diagnosis lengkap (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Jenis Kelamin wanita 2-3 kali lebih sering terkena dari pada laki-laki, walaupun kurangnya diagnosis gangguan panik pada laki-laki mungkin berperan dalam distribusi yang tidak sama tersebut. Perbedaan antara kelompok Hispanik, kulit putih non-Hispanik, dan kulit hitam adalah sangat kecil. Faktor sosial satu-satunya yang dikenali berperan dalam perkembangan gangguan panik adalah riwayat perceraian atau perpisahan yang belum lama. Gangguan paling sering berkembang pada dewasa muda - usia rata-rata timbulnya adalah kira-kira 25 tahun, tetapi baik gangguan panik maupun agorafobia dapat berkembang pada setiap usia. Sebagai contohnya. gangguan panik telah dilaporkan terjadi pada anak-anak dan remaja. dan kemungkinan kurang diagnosis pada mereka (Kaplan & Sadock, 2010).

IV.             Etiologi
Terdapat beberapa faktor yang mendasari terjadinya gangguan panic diantaranya faktor biologis yang meliputi sistem saraf otonom dan zat-zat panikogen, faktor genetis dan faktor psikososial (Kaplan & Sadock, 2010).
A.    Faktor Biologis
Faktor biologis yang terlibat mungkin adalah sebuah predisposisi yang diwariskan dalam keluarga dan terjadi lebih banyak pada kembar identik dibanding kembar fraternal (Kaplan & Sadock, 2010).
Penelitian tentang dasar biologis untuk gangguan panik telah menghasilkan bahwa gejala gangguan panik dapat disebabkan oleh berbagai kelainan biolgis di struktur otak dan fungsi otak. Pada gangguan panik ditemukan adanya disregulasi sistem saraf perifer dan pusat dimana sistem saraf otonomik pada beberapa pasien gangguan panik telah dilaporkan menunjukkan peningkatan tonus simpatetis, beradaptasi lambat terhadap stimuli yang berulang dan berespon secara berlebihan terhadap stimuli (Kaplan & Sadock, 2010).
Pandangan biologis lain menyatakan bahwa gangguan panik disebabkan oleh masalah-masalah yang meliputi salah satu atau kedua neurotransmiter utama yaitu norepinefrin, serotonin dan gamma aminobutyric acid (GABA) (Kaplan & Sadock, 2010).
B.     Faktor genetik
Berbagai penelitian telah menemukan adanya peningkatan risiko gangguan panik sebesar 4-8 lebih banyak pada saudara kembar monozigotik dan cenderung menderita gangguan panik dibanding kembar dizigotik (Kaplan & Sadock, 2010).
Gangguan ini memiliki komponen genetika yang jelas. Angka prevalensi tinggi pada anak dengan orang tua yang menderita gangguan panik. Berbagai penelitian telah menemukan adanya peningkatan resiko gangguan panik sebesar 4-8 kali lipat pada sanak saudara derajat pertama pasien dengan gangguan panik dibandingkan dengan sanak saudara derajat pertama dari pasien dengan gangguan psikiatrik lainnya. Demikian juga pada kembar monozigot (Kaplan & Sadock, 2010).
C.     Faktor Psikososial
Terdapat 2 teori yang dikembangkan untuk menjelaskan patogenesis dari gangguan panik dan agorafobia. Kedua teori tersebut adalah teori kognitif-perilaku, teori psikoanalitik dan teori kelekatan. Hipotesis bahwa peristiwa psikologis yang menyebabkan stres menghasilkan perubahan neurofisiologis pada gangguan panic mendapatkan dukungan dari beberapa penelitian bahwa gangguan panik berhubungan kuat dengan perpisahan parental dan kematian parental sebelum usia 17 tahun (Kaplan & Sadock, 2010).
Selain itu didapatkan pula bahwa pola kecemasan akan sosialisasi saat masa kanak-kanak, hubungan dengan orang tua yang tidak mendukung serta perasaan terperangkap atau terjebak dapat menyebabkan terjadinya gangguan panic (Kaplan & Sadock, 2010).

V.                Tanda dan Gejala
Gangguan panic terutama ditandai dengan serangan panic yang berulang. Serangan panic terjadi spontan dan tidak terduga, disertai dengan gejala otonomik yang kuat, terutama system kardiovaskular dan system pernafasan. Serangan sering dimulai selama 10 menit, gejala meningkat secara cepat. Kondisi cemas pada gangguan panic biasanya terjadi secara tiba-tiba, dapat meningkat hingga sangat tinggi disertai gejala-gejala yang mirip gangguan jantung, yaitu rasa nyeri dada, berdebar-debar, keringat dingin, hingga merasa seperti tercekik. Hal ini dialami tidak terbatas pada situasi atau rangkaian kejadian tertentu dan biasanya tidak terduga sebelumnya (Elvira & Hadisukanto, 2010).
DSM IV menekankan bahwa sekurang-kurangnya serangan pertama harus tidak diperkirakan untuk memenuhi kriteria diagnosis untuk gangguan panic (Maslim, 2001).
Gejala yang ditimbulkan antara lain:
·         Serangan dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. 
·         Gejala utama dan khas adalah ketakutan yang kuat dan suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. 
·         Pasien biasanya tidak mampu untuk menyebutkan sumber ketakutannya dan mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. 
·         Tanda-tanda fisik seperti takikardia, sesak napas dan berkeringat. 
·         Sekurangnya satu serangan telah terjadi paling sedikit 1 bulan atau lebih dengan kekhawatiran yang menetap mengalami serangan tambahan, perubahan perilaku bermakna berhubungan dengan serangan. 
·         Permasalahan somatik akan kematian dari gangguan jantung atau pernapasan mungkin merupakan perhatian utama selama serangan panik.
(Kaplan & Sadock, 2010)
Suatu serangan panik secara tiba-tiba akan menyebabkan minimal 4 dari gejala-gejala somatik berikut:
·         Palpitasi
·         Berkeringat
·         Gemetar
·         Sesak napas
·         Perasaan tercekik
·         Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman
·         Mual dan gangguan perut
·         Pusing, bergoyang. melayang. atau pingsan
·         Derealisasi atau depersonalisasi
·         Ketakutan kehilangan kendali atau menjadi gila
·         Rasa takut mati
·         Parastesi atau mati rasa
·         Menggigil atau perasaan panas
(Kaplan & Sadock, 2010)
Terdapat beberapa kondisi medis yang menyerupai serangan panik, diantaranya:
·         Hyper/hypothyroid 
·         Hyperparatiroid 
·         Prolaps Mitral 
·         Gangguan putus obat 
·         Gangguan putus alkohol 
·         Hipoglikemia
(Kaplan & Sadock, 2010)
VI.             Diagnosis dan Kriteria Diagnosis
Menurut PPDGJ-III gangguan panik baru ditegakkan sebagai diagnosis utama bila tidak ditemukan adanya gangguan anxietas fobik. Untuk diagnosis pasti, harus ditemukan adanya beberapa kali serangan anxietas berat dalam masa kira-kira satu bulan :
1.      Pada keadaan-keadaan dimana sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya.
2.      Tidak terbatas pada situasi yang telah diketahui atau yang dapat diduga sebelumnya (unpredictable situation)
3.      Dengan keadaan yang relatif dari gejala-gejala anxietas pada periode diantara serangan-serangan panik (meskipun demikian umumnya dapat terjadi juga anxietas antisipatorik)  yaitu anxietas yang terjadi setelah membayangkan sesuatu yang mengkhawatirkan akan terjadi.
(Maslim, 2001)
VII.          Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Gangguan panik biasanya memiliki onsetnya selama masa remaja akhir atau masa dewasa awal, walaupun onset selama masa anak-anak, remaja awal, dan usia pertengahan dapat terjadi. Biasanya kronik dan bervariasi tiap individu. Frekuensi dan kepasrahan serangan panic mungkin berfluktuasi. Serangan panik dapat terjadi beberapa kali sehari atau kurang dari satu kali dalam sebulan. Penelitian follow up jangka panjang gangguan panik sulit diinterpretasikan. Namun demikian kira-kira 30-40% pasien tampaknya bebas dari gejala follow up jangka panjang, kira-kira 50% memiliki gejala yang cukup ringan yang tidak mempengaruhi kehidupannya secara bermakna dan kira-kira 10-21 % terus memiliki gejala yang bermakna (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Depresi dapat mempersulit gambaran gejala pada kira-kira 40-80 % dari semua pasien. Pasien dengan fungsi premorbid yang baik dan lama gejala singkat cenderung memiliki prognosis yang baik (Elvira & Hadisukanto, 2010).
VIII.       Penatalaksanaan
Tata laksana gangguan panic terdiri atas pemberian farmakoterapi dan psikoterapi. Dari penelitian didapatkan bahwa bila hanya farmakoterapi saja atau psikoterapi saja, maka angka kekambuhan lebih tinggi dibandingkan dengan bila mendapat gabungan antara farmakoterapi dan psikoterapi (Elvira & Hadisukanto, 2010).
A.    Farmakoterapi
·         SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibitors)
Serotonin selective reuptake inhibitors (SSRI) dapat dipilih sertralin, fluoksektin, fluvoksamin yang diberikan dalam 3-6 bulan atau lebih tergantung kondisi individu agar kadarnya stabil dalam darah sehingga dapat mencegah kekambuhan (Elvira & Hadisukanto, 2010). 
·         Alprazolam
Alprazolam awitan kerjanya cepat, dikonsumsi biasanya antara 4-6 minggu, setelah itu secara perlahan-lahan diturunkan dosisnya sampai akhirnya dihentikan. Jadi setelah itu dan seterusnya, individu hanya mengkonsumsi golongan SSRI (Elvira & Hadisukanto, 2010).
B.     Psikoterapi
·         Terapi Relaksasi
Tujuan terapi ini adalah meredakan dengan cepat serangan panik dan menenangkan individu.  Cara melakukan terapi ini dengan melakukan latihan pernapasan dengan cara:
ü  Tarik napas biasa dan hitung sebanyak 5 kali. 
ü  Tarik napas dalam dan hitung sebanyak 5 kali lalu keluarkan melalui hidung. 
ü  Tarik napas biasa dan hitung sebanyak 5 kali. 
ü  Tarik napas dalam, hitung sebanyak 5 kali lalu keluarkan melalui mulut. 
ü  Tarik napas biasa hitung sebanyak 5 kali.
(Elvira & Hadisukanto, 2010)
·         Cognitive Behaviour Terapy (CBT)
Terapi ini menekankan pada pikiran individu karena merupakan sumber utama perilaku abnormal dan masalah psikologis sehingga penderita harus mengubah perasaan dan perilaku individu dengan mengubah kognisi (pikiran). Tujuan dilakukan terapi ini membantu memandu individu dalam identifikasi pikiran yang tidak rasional dan mendorong penderita untuk mencari cara lain yang lebih positif (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Individu diajak untuk bersama-sama melakukan rekonstruksi kognitif, yaitu membentuk kembali pola perilaku dan pikiran yang irasional dan menggantinya dengan yang lebih rasional. Terapi biasanya berlangsung 30-45 menit. Individu kemudian diberi pekerjaan rumah yang harus dibuat setiap hari, biasanya terapi ini memerlukan 10-15 kali pertemuan, bisa kurang namun dapat pula lebih, tergantung pada kondisi individu yang mengalaminya (Elvira & Hadisukanto, 2010).
·         Psikoterapi Dinamik
Individu diajak untuk lebih memahami diri dan kepribadiannya, bukan sekedar menghilangkan gejalanya semata. Pada psikoterapi ini, biasanya individu lebih banyak berbicara, sedangkan dokter lebih banyak mendengar, kecuali pada individu yang benar-benar pendiam, maka dokter yang lebih aktif. Terapi ini memerlukan waktu panjang, dapat berbulan-bulan bahkan bertahun. Hal ini tentu memerlukan kerjasama yang baik antara individu dengan dokternya, serta kesabaran kedua belah pihak (Elvira & Hadisukanto, 2010).
IX.             Prevensi dan Rehabilitasi
Pencegahan primer (yaitu bagi yang belum pernah mengalami gangguan panic), maka harus waspada bila dalam keluarganya ada yang mengalami. Juga, menurut penelitian, bila seseorang pernah mengalami cemas perpisahan (separation anxiety) ketika pertama kali masuk sekolah, maka bisa jadi ketika dewasa mungkin akan mengalami gangguan panic (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Pencegahan sekunder (bila individu pernah mengalami serangan panic satu kali) dan telah berobat ke dokter, maka pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terjadi kekambuhan adalah dengan melakukan latihan relaksasi secara teratur dan terus menerus, datang konsultasi sampai dinyatakan sembuh oleh dokter (Elvira & Hadisukanto, 2010).
X.                Kesimpulan
1.      Gangguan panik adalah gangguan yang ditandai dengan serangan panik yang spontan dan tidak diperkirakan, atau periode kecemasan atau ketakutan yang kuat dan relative singkat ( biasanya kurang dari 1 tahun). yang disertai dengan gejala somatik.
2.      Wanita 2-3 kali lebih sering terkena daripada laki-laki, gangguan paling sering berkembang pada dewasa muda.
3.      Faktor yang berperan dalam etiologi dan patofisiologi terjadinya gangguan panik, diantaranya faktor biologi, faktor genetik dan faktor psikososial.
4.      Dalam terapi pada kasus gangguan panik diperlukan gabungan terapi antara farmakoterapi dan psikoterapi untuk mendapatkan hasil yang baik.








DAFTAR PUSTAKA

Elvira SD, Hadisukanto G, 2010. Buku Ajar Psikiatri, Badan Penerbit FKUI, Jakarta.
Maslim R, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III, FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
Sadock BJ, Sadock VA, 2010, Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis Ed.2, EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar