I.
Pendahulan
Diantara
beberapa gangguan cemas yang dikenal, gangguan panic merupakan gangguan yang
lebih sering dijumpai akhir-akhir ini. Dari penelitian diketahui bahwa di
Negara-negara barat, gangguan panic dialami lebih kurang 1,7% dari populasi
orang dewasa. Angka kejadian sepanjang hidup gangguan panic dilaporkan 1,5% -
5%, sedangkan serangan panic sebanyak 3% - 5,6% di Indonesia belum dilakukan
studi epidemiologi yang dapat menggambarkan berapa jumlah individu yang
mengalami gangguan panic, namun para professional merasakan adanya peningkatan
jumah kasus yang dating minta pertolongan (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Prevalensi sepanjang hidup gangguan
panic dilaporkan 1,5% - 5%, sedangkan serangan panik sebanyak 3% - 5,6%. Suatu
penelitian di Texas terhadap lebih dari 1600 sampel yang diseleksi secara acak,
didapatkan angka prevalensi sepanjang hidup 3,8% untuk gangguan panik, 5,6%
untuk serangan panic, serta 2,2% mengalami serangan panic dengan gejala yang
terbatas dan tidak memenuhi kriteria diagnostik. Gangguan panic pada perempuan
2/3 dari laki-laki. Pada umumnya terjadi pada usia dewasa muda sekitar 25
tahun, tetapi bisa terjadi pada usia berapapun, termasuk anak-anak dan remaja
(Elvira & Hadisukanto, 2010).
Sembilan puluh
satu persen pasien dengan gangguan panic dan 84% yang agrofobia mengalami
setidaknya satu gangguan psikiatrik lainnya. Sepuluh hingga 15% pasien dengan
gangguan panik juga mengalami gangguan depresi berat. Sepertiga diantaranya
mengalami gangguan depresi sebelum awitan gangguan panik, serta sisanya
mengalami serangan panic selama atau sesudah awitan gangguan depresi berat
(Elvira & Hadisukanto, 2010).
Anxietas juga
sering terdapat pada gangguan panic dengan agoraphobia limabelas sampai 30%
mengalami fobia sosial, 2–20% terdapat fobia spesifik dan 15-30% mengalami
gangguan kecemasan hingga 30% mengalami gangguan obsesif sampai konvulsif
(Elvira & Hadisukanto, 2010).
Kondisi komorbiditas lainnya antara lain
hipokondriasis, gangguan kepribadian, gangguan penggunaan zat (Elvira &
Hadisukanto, 2010).
II.
Definisi
Istilah “panik” berasal
dari kata Pan, dewa Yunani yang setengah hantu, tinggal dipegunungan dan hutan,
dan perilakunya sangat sulit diduga. Di tahun 1895 deskripsi gangguan panik
pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud dalam kasus agorafobia. Serangan
panik merupakan ketakutan akan timbulnya serangan serta diyakini akan segera
terjadi. Individu yang mengalami serangan panik berusaha untuk melarikan diri
dari keadaan yang tidak pernah diprediksi (Kaplan & Sadock, 2010).
Gangguan panik merupakan kelainan
medis berupa serangan panik berulang dan sering yang tidak disebabkan oleh
penggunaan zat atau obat atau gangguan jiwa lain dengan puncaknya adalah
perasaan takut, perasaan tidak nyaman dan khawatir berlebihan (Elvira &
Hadisukanto, 2010).
Menurut DSM-IV, gangguan panik
adalah gangguan yang sekurang-kurangnya terdapat 3 serangan panik dalam waktu 3
minggu dan tidak dalam kondisi berat atau dalam situasi yang mengancam kehidupan.
Gangguan panik bersifat rekuren (kambuh) dan akan mengakibatkan terjadinya
serangan panik yang tidak diduga-duga dan mencapai puncaknya kurang dari menit
(Maslim, 2001).
Gangguan panik adalah
ditandai dengan terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak diperkirakan.
Serangan panik adalah periode kecemasan atau ketakutan yang kuat dan relative
singkat (biasanya kurang dari satu tahun), yang disertai oleh gejala somatik
tertentu seperti palpitasi dan takipnea. Frekuensi pasien dengan gangguan panik
mengalami serangan panik adalah bervariasi dari serangan multiple dalam satu
hari sampai hanya beberapa serangan selama setahun. Di Amerika Serikat,
sebagian besar peneliti dibidang gangguan panik percaya bahwa agoraphobia
hampir selalu berkembang sebagai suatu komplikasi pada pasien yang memiliki
gangguan panik (Kaplan & Sadock, 2010).
III.
Epidemiologi
Laporan epidemiologi telah melaporkan
prevalensi seumur hidup untuk gangguan panik adalah 1,5-3 persen dan untuk
serangan panic adalah 3-4 persen. Penelitian telah menggunakan kriteria
DSM-III, yang lebih terbatas dibandingkan criteria di dalam edisi ketiga yang
direvisi (DSM-III-R) dan DSM IV; dengan demikian, prevalensi seumur hidup yang
sesungguhnya kemungkinan lebih tinggi dari angka tersebut. Sebagai contoh, satu
penelitian terakhir pada lebih dari 1.600 orang dewasa yang dipilih secara acak
di Texas menemukan bahwa angka prevalensi seumur hidup adalah 3,8% untuk
gangguan panic, 5,6% untuk serangan panic, dan 2,2% untuk serangan panic dengan
gejala yang terbatas yang tidak memenuhi criteria diagnosis lengkap (Elvira
& Hadisukanto, 2010).
Jenis Kelamin wanita 2-3 kali lebih sering
terkena dari pada laki-laki, walaupun kurangnya diagnosis gangguan panik pada
laki-laki mungkin berperan dalam distribusi yang tidak sama tersebut. Perbedaan
antara kelompok Hispanik, kulit putih non-Hispanik, dan kulit hitam adalah
sangat kecil. Faktor sosial satu-satunya yang dikenali berperan dalam
perkembangan gangguan panik adalah riwayat perceraian atau perpisahan yang
belum lama. Gangguan paling sering berkembang pada dewasa muda - usia rata-rata
timbulnya adalah kira-kira 25 tahun, tetapi baik gangguan panik maupun
agorafobia dapat berkembang pada setiap usia. Sebagai contohnya. gangguan panik
telah dilaporkan terjadi pada anak-anak dan remaja. dan kemungkinan kurang
diagnosis pada mereka (Kaplan & Sadock, 2010).
IV.
Etiologi
Terdapat
beberapa faktor yang mendasari terjadinya gangguan panic diantaranya faktor
biologis yang meliputi sistem saraf otonom dan zat-zat panikogen, faktor
genetis dan faktor psikososial (Kaplan & Sadock, 2010).
A. Faktor Biologis
Faktor
biologis yang terlibat mungkin adalah sebuah predisposisi yang diwariskan dalam
keluarga dan terjadi lebih banyak pada kembar identik dibanding kembar
fraternal (Kaplan & Sadock, 2010).
Penelitian
tentang dasar biologis untuk gangguan panik telah menghasilkan bahwa gejala
gangguan panik dapat disebabkan oleh berbagai kelainan biolgis di struktur otak
dan fungsi otak. Pada gangguan panik ditemukan adanya disregulasi sistem saraf
perifer dan pusat dimana sistem saraf otonomik pada beberapa pasien gangguan
panik telah dilaporkan menunjukkan peningkatan tonus simpatetis, beradaptasi
lambat terhadap stimuli yang berulang dan berespon secara berlebihan terhadap
stimuli (Kaplan & Sadock, 2010).
Pandangan
biologis lain menyatakan bahwa gangguan panik disebabkan oleh masalah-masalah
yang meliputi salah satu atau kedua neurotransmiter utama yaitu norepinefrin,
serotonin dan gamma aminobutyric acid (GABA) (Kaplan
& Sadock, 2010).
B. Faktor genetik
Berbagai
penelitian telah menemukan adanya peningkatan risiko gangguan panik sebesar 4-8
lebih banyak pada saudara kembar monozigotik dan cenderung menderita gangguan
panik dibanding kembar dizigotik (Kaplan & Sadock, 2010).
Gangguan ini memiliki komponen genetika yang jelas. Angka prevalensi
tinggi pada anak dengan orang tua yang menderita gangguan panik. Berbagai
penelitian telah menemukan adanya peningkatan resiko gangguan panik sebesar 4-8
kali lipat pada sanak saudara derajat pertama pasien dengan gangguan panik
dibandingkan dengan sanak saudara derajat pertama dari pasien dengan gangguan
psikiatrik lainnya. Demikian juga pada kembar monozigot (Kaplan
& Sadock, 2010).
C. Faktor Psikososial
Terdapat
2 teori yang dikembangkan untuk menjelaskan patogenesis dari gangguan panik dan
agorafobia. Kedua teori tersebut adalah teori kognitif-perilaku, teori
psikoanalitik dan teori kelekatan. Hipotesis bahwa peristiwa psikologis yang
menyebabkan stres menghasilkan perubahan neurofisiologis pada gangguan panic
mendapatkan dukungan dari beberapa penelitian bahwa gangguan panik berhubungan
kuat dengan perpisahan parental dan kematian parental sebelum usia 17 tahun (Kaplan
& Sadock, 2010).
Selain
itu didapatkan pula bahwa pola kecemasan akan sosialisasi saat masa
kanak-kanak, hubungan dengan orang tua yang tidak mendukung serta perasaan
terperangkap atau terjebak dapat menyebabkan terjadinya gangguan panic (Kaplan
& Sadock, 2010).
V.
Tanda
dan Gejala
Gangguan panic terutama ditandai dengan
serangan panic yang berulang. Serangan panic terjadi spontan dan tidak terduga,
disertai dengan gejala otonomik yang kuat, terutama system kardiovaskular dan
system pernafasan. Serangan sering dimulai selama 10 menit, gejala meningkat
secara cepat. Kondisi cemas pada gangguan panic biasanya terjadi secara
tiba-tiba, dapat meningkat hingga sangat tinggi disertai gejala-gejala yang
mirip gangguan jantung, yaitu rasa nyeri dada, berdebar-debar, keringat dingin,
hingga merasa seperti tercekik. Hal ini dialami tidak terbatas pada situasi
atau rangkaian kejadian tertentu dan biasanya tidak terduga sebelumnya (Elvira
& Hadisukanto, 2010).
DSM IV menekankan bahwa
sekurang-kurangnya serangan pertama harus tidak diperkirakan untuk memenuhi
kriteria diagnosis untuk gangguan panic (Maslim, 2001).
Gejala
yang ditimbulkan antara lain:
·
Serangan
dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10
menit.
·
Gejala
utama dan khas adalah ketakutan yang kuat dan suatu perasaan ancaman kematian
dan kiamat.
·
Pasien
biasanya tidak mampu untuk menyebutkan sumber ketakutannya dan mungkin merasa
kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.
·
Tanda-tanda
fisik seperti takikardia, sesak napas dan berkeringat.
·
Sekurangnya
satu serangan telah terjadi paling sedikit 1 bulan atau lebih dengan
kekhawatiran yang menetap mengalami serangan tambahan, perubahan perilaku
bermakna berhubungan dengan serangan.
·
Permasalahan
somatik akan kematian dari gangguan jantung atau pernapasan mungkin merupakan
perhatian utama selama serangan panik.
(Kaplan
& Sadock, 2010)
Suatu serangan panik secara tiba-tiba akan
menyebabkan minimal 4 dari gejala-gejala somatik berikut:
·
Palpitasi
·
Berkeringat
·
Gemetar
·
Sesak napas
·
Perasaan tercekik
·
Nyeri dada atau perasaan
tidak nyaman
·
Mual dan gangguan perut
·
Pusing,
bergoyang. melayang. atau pingsan
·
Derealisasi atau
depersonalisasi
·
Ketakutan kehilangan
kendali atau menjadi gila
·
Rasa takut mati
·
Parastesi atau mati rasa
·
Menggigil atau perasaan
panas
(Kaplan & Sadock, 2010)
Terdapat
beberapa kondisi medis yang menyerupai serangan panik, diantaranya:
·
Hyper/hypothyroid
·
Hyperparatiroid
·
Prolaps
Mitral
·
Gangguan
putus obat
·
Gangguan
putus alkohol
·
Hipoglikemia
(Kaplan
& Sadock, 2010)
VI.
Diagnosis
dan Kriteria Diagnosis
Menurut PPDGJ-III
gangguan panik baru ditegakkan sebagai diagnosis utama bila tidak ditemukan
adanya gangguan anxietas fobik. Untuk diagnosis pasti,
harus ditemukan adanya beberapa kali serangan anxietas berat dalam masa
kira-kira satu bulan :
1. Pada
keadaan-keadaan dimana sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya.
2.
Tidak terbatas pada situasi
yang telah diketahui atau yang dapat diduga sebelumnya (unpredictable
situation)
3. Dengan
keadaan yang relatif dari gejala-gejala anxietas pada periode diantara
serangan-serangan panik (meskipun demikian umumnya dapat terjadi juga anxietas
antisipatorik) yaitu anxietas yang
terjadi setelah membayangkan sesuatu yang mengkhawatirkan akan terjadi.
(Maslim, 2001)
VII.
Perjalanan
Penyakit dan Prognosis
Gangguan panik biasanya
memiliki onsetnya selama masa remaja akhir atau masa dewasa awal, walaupun
onset selama masa anak-anak, remaja awal, dan usia pertengahan dapat terjadi.
Biasanya kronik dan bervariasi tiap individu. Frekuensi dan kepasrahan serangan
panic mungkin berfluktuasi. Serangan panik dapat
terjadi beberapa kali sehari atau kurang dari satu kali dalam sebulan.
Penelitian follow up jangka panjang gangguan panik sulit diinterpretasikan.
Namun demikian kira-kira 30-40% pasien tampaknya bebas dari gejala follow up
jangka panjang, kira-kira 50% memiliki gejala yang cukup ringan yang tidak
mempengaruhi kehidupannya secara bermakna dan kira-kira 10-21 % terus memiliki
gejala yang bermakna (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Depresi
dapat mempersulit gambaran gejala pada kira-kira 40-80 % dari semua
pasien. Pasien dengan fungsi premorbid yang baik dan lama gejala singkat
cenderung memiliki prognosis yang baik (Elvira &
Hadisukanto, 2010).
VIII.
Penatalaksanaan
Tata laksana gangguan panic terdiri atas
pemberian farmakoterapi dan psikoterapi. Dari penelitian didapatkan bahwa bila
hanya farmakoterapi saja atau psikoterapi saja, maka angka kekambuhan lebih
tinggi dibandingkan dengan bila mendapat gabungan antara farmakoterapi dan
psikoterapi (Elvira & Hadisukanto, 2010).
A. Farmakoterapi
·
SSRI (Serotonin Selective Reuptake Inhibitors)
Serotonin
selective reuptake inhibitors (SSRI) dapat dipilih
sertralin, fluoksektin, fluvoksamin yang diberikan dalam 3-6 bulan atau lebih
tergantung kondisi individu agar kadarnya stabil dalam darah sehingga dapat
mencegah kekambuhan (Elvira & Hadisukanto, 2010).
·
Alprazolam
Alprazolam
awitan kerjanya cepat, dikonsumsi biasanya antara 4-6 minggu, setelah itu
secara perlahan-lahan diturunkan dosisnya sampai akhirnya dihentikan. Jadi
setelah itu dan seterusnya, individu hanya mengkonsumsi golongan SSRI (Elvira
& Hadisukanto, 2010).
B. Psikoterapi
·
Terapi Relaksasi
Tujuan
terapi ini adalah meredakan dengan cepat serangan panik dan menenangkan
individu. Cara melakukan terapi ini
dengan melakukan latihan pernapasan dengan cara:
ü Tarik napas biasa dan hitung
sebanyak 5 kali.
ü Tarik napas dalam dan hitung
sebanyak 5 kali lalu keluarkan melalui hidung.
ü Tarik napas biasa dan hitung
sebanyak 5 kali.
ü Tarik napas dalam, hitung sebanyak 5
kali lalu keluarkan melalui mulut.
ü Tarik napas biasa hitung sebanyak 5
kali.
(Elvira
& Hadisukanto, 2010)
·
Cognitive
Behaviour Terapy (CBT)
Terapi
ini menekankan pada pikiran individu karena merupakan sumber utama perilaku
abnormal dan masalah psikologis sehingga penderita harus mengubah perasaan dan
perilaku individu dengan mengubah kognisi (pikiran). Tujuan dilakukan terapi
ini membantu memandu individu dalam identifikasi pikiran yang tidak rasional
dan mendorong penderita untuk mencari cara lain yang lebih positif (Elvira
& Hadisukanto, 2010).
Individu
diajak untuk bersama-sama melakukan rekonstruksi kognitif, yaitu membentuk
kembali pola perilaku dan pikiran yang irasional dan menggantinya dengan yang
lebih rasional. Terapi biasanya berlangsung 30-45 menit. Individu kemudian
diberi pekerjaan rumah yang harus dibuat setiap hari, biasanya terapi ini
memerlukan 10-15 kali pertemuan, bisa kurang namun dapat pula lebih, tergantung
pada kondisi individu yang mengalaminya (Elvira & Hadisukanto, 2010).
·
Psikoterapi Dinamik
Individu diajak untuk
lebih memahami diri dan kepribadiannya, bukan sekedar menghilangkan gejalanya
semata. Pada psikoterapi ini, biasanya individu lebih banyak berbicara,
sedangkan dokter lebih banyak mendengar, kecuali pada individu yang benar-benar
pendiam, maka dokter yang lebih aktif. Terapi ini memerlukan waktu panjang,
dapat berbulan-bulan bahkan bertahun. Hal ini tentu memerlukan kerjasama yang
baik antara individu dengan dokternya, serta kesabaran kedua belah pihak
(Elvira & Hadisukanto, 2010).
IX.
Prevensi
dan Rehabilitasi
Pencegahan primer (yaitu bagi yang belum
pernah mengalami gangguan panic), maka harus waspada bila dalam keluarganya ada
yang mengalami. Juga, menurut penelitian, bila seseorang pernah mengalami cemas
perpisahan (separation anxiety)
ketika pertama kali masuk sekolah, maka bisa jadi ketika dewasa mungkin akan
mengalami gangguan panic (Elvira & Hadisukanto, 2010).
Pencegahan
sekunder (bila individu pernah mengalami serangan panic satu kali) dan telah
berobat ke dokter, maka pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terjadi
kekambuhan adalah dengan melakukan latihan relaksasi secara teratur dan terus
menerus, datang konsultasi sampai dinyatakan sembuh oleh dokter (Elvira &
Hadisukanto, 2010).
X.
Kesimpulan
1. Gangguan
panik adalah gangguan yang ditandai dengan serangan panik yang spontan dan
tidak diperkirakan, atau periode kecemasan atau ketakutan yang kuat dan
relative singkat ( biasanya kurang dari 1 tahun). yang disertai dengan gejala
somatik.
2. Wanita
2-3 kali lebih sering terkena daripada laki-laki, gangguan paling sering
berkembang pada dewasa muda.
3. Faktor
yang berperan dalam etiologi dan patofisiologi terjadinya gangguan panik,
diantaranya faktor biologi, faktor genetik dan faktor psikososial.
4. Dalam
terapi pada kasus gangguan panik diperlukan gabungan terapi antara
farmakoterapi dan psikoterapi untuk mendapatkan hasil yang baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Elvira
SD, Hadisukanto G, 2010. Buku Ajar Psikiatri, Badan Penerbit FKUI,
Jakarta.
Maslim
R, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III,
FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
Sadock
BJ, Sadock VA, 2010, Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis
Ed.2, EGC, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar