Rabu, 05 November 2014

VARISELA



PENDAHULUAN

Varisela atau chickenpox atau yang dikenal dengan cacar air adalah infeksi primer virus varicella-zoster (VZV) yang umumnya menyerang anak dan merupakan penyakit yang  sangat  menular. Varisela  adalah  infeksi virus  Varisela  Zoster  (VVZ) menyerang  kulit  dan  mukosa,  secara  klinis  terdapat  gejala  konstitusi,  kelainan  kulit polimorf,  terutama  berlokasi  dibagian  sentral  tubuh.  Varisela  juga  dikenal  sebagai cacar air atau chicken pox.
Varisela dapat mengenai semua kelompok umur termasuk  neonatus,  tetapi  hampir  sembilan  puluh persen kasus mengenai anak dibawah umur 10 tahun dan  terbanyak  pada  umur  5-9  tahun. Varisela  merupakan  penyakit  yang  tersebar  luas  diseluruh  dunia,  menyerang terutama anak-anak, namun dapat pula menyerang orang dewasa.
Epidemik varisela terjadi pada musim dingin dan musim semi, tercatat lebih dari 4 juta kasus, 11.000 rawat inap, dan 100 kematian tiap tahunnya. Di  Indonesia, insidennya  cukup tinggi dan  terjadi  secara  sproradis  sepanjang  tahun.  Varisela  merupakan  penyakit  serius dengan  persentasi  komplikasi  dan  angka  kematian  tinggi  pada  dewasa.  Pada  rumah tangga,  presentasi  penularan  dari  virus  ini  berkisar  65%-86%.  VVZ  merupakan infeksi  yang  sangat  menular  dan  menyebar  biasanya  melalui  udara  atau  sekresi respirasi  dan  terkadang  melalui  transfer  langsung  dari  lesi  kulit  melalui  transmisi fetomaternal.
            Virus Varisela Zoster (VVZ) merupakan anggota famili herpesviridae dan sub famili alfa herpes. Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus ini menyebabkan varisela, sedangkan reaktivasi menyebabkan herpes zoster.
Jangka  waktu  sejak  penderita  terinfeksi  virus  sampai  timbul  gejala  sekitar  14 sampai 16 hari. Varisela dapat menyerang semua golongan umur termasuk bayi, 90 % kasus  berumur  10  tahun  dan  terbanyak  umur  5-9  tahun.  Pasien  dapat  menularkan penyakit  selama  24-48  jam  sebelum  lesi  kulit  timbul,  sampai  semua  lesi  timbul krusta/keropeng biasanya 7-8 hari.
Diagnosis varisela dapat ditegakkan dengan melihat bentuk  vesikel  yang  khas yaitu seperti tetesan embun (tear drops) dan memiliki gambaran polimorf, selain itu penyebaran  lesi  kulit  dari  varisela  pada  umumnya  pertama  kali  di  daerah  badan kemudian  menyebar  secara  sentrifugal  ke  wajah  dan  ekstremitas.  Lesi  kulit  dari varisela dapat juga menyerang selaput lendir mata, mulut, dan saluran napas bagian atas.  Berdasarkan  gejala  klinisnya,  varisela  memiliki  tiga  stadium  yang  terdiri  dari stadium prodromal, stadium erupsi, dan stadium penyembuhan.
            Berikut akan dibahas sebuah refleksi kasus mengenai varisela pada pasien anak yang dirawat di ruangan bangsal perawatan anak RSUD Undata Palu.

















LAPORAN KASUS
Identitas
Nama                           : an. Az
Jenis Kelamin              : laki-laki
Usia                             : 1 Tahun 10 bulan
Tanggal masuk/jam     : 26 Juni 2014/11.15

Anamnesa
Keluhan utama            : Bintik-bintik kemerahan
Pasien masuk dengan keluhan bintik-bintik kemerahan berupa benjolan pada pinggang dan menjalar ke pundak dan leher sejak sehari sebelum masuk ke poliklinik rumah sakit. 2 hari sebelum muncul bintik-bintik pasien mengalami panas naik turun. Panas turun jika minum obat penurun panas dan naik kembali dengan sendirinya. Pasien juga mengeluhkan pilek sejak sehari sebelum datang ke poliklinik rumah sakit. Keluhan juga disertai dengan muntah sekali saat pagi sebelum ke poliklinik rumah sakit, muntah berupa makanan yag dikonsumsi dengan warna biasa tidak ada kemerahan. Mimisan (-), batuk (-), sakit menelan (-), sakit perut (-), sesak nafas (-). Buang air kecil lancar warna kekuningan, buang air besar lancar cair (-) warna kehitaman (-).

Riwayat Keluarga
Sekitar seminggu sebelum masuk rumah sakit ibu pasien mengalami cacar air dan sekarang sudah sembuh.
Keadaan Sosial Ekonomi
Pasien merupakan golongan menengah dengan menggunakan jaminan kesehatan BPJS.


Riwayat Persalinan
Pasien lahir dengan cukup bulan, lahir secara sectio cesarea atas indikasi ketuban pecah dini dengan berat badan lahir 2800 gram.

Anamnesis Makanan
Pasien mendapat ASI dari lahir hingga umur 1 tahun juga mendapat susu formula, mulai makan bubur saring sejak umur 6 bulan. Sekarang pasien juga mengkonsumsi makanan rumah. Pasien jarang jajan sembarangan diluar.
Imunisasi
Penderita mendapat imunisasi wajib lengkap dan selesai umur 9 bulan.
·           BCG         : 1 x
·           Hepatitis   : 3 x
·           DPT          : 3 x
·           Polio         : 3 x
·           Campak    : 1 x

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum          : Sakit sedang
·      Kesadaran     : Compos mentis
·      Status Gizi    : Gizi baik                    (BB : 10 kg   ; TB : 73 cm)
·      Tanda Vital   :  - Denyut Nadi : 108 kali/menit        - Suhu : 36.2 oC
   - Pernapasan    : 32 kali/menit          - TD    : 100/60 mmHg
Kulit    : Pustula (+), warna kuning langsat, lapisan lemak cukup tebal, sianosis (-),  ikterk (-),  turgor kembali  cepat, edema (-) 
Kepala : Normocephal, rambut sukar dicabut, ubun-ubun besar menutup
·      Mata              : konjungtiva anemis (-/-), palpebra ikterik (-/-)
·      Hidung          : sekret (-/-), pernapasan cuping hidung (-/-)
·      Telinga          : sekret (-/-)
·      Mulut                        : bibir tidak tampak sianosis, lembab, lidah kotor (-) tidak hiperemis, gusi normal, tonsil T1/T1 tidak hiperemis.
Leher   : Tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening dan kelenjar limfe.
Thoraks
·      Inspeksi         : pergerakan dinding dada simetris bilateral, pustula (+)
·      Palpasi           : Vokal Fremitus kiri = kanan, Ictus cordis teraba di sela inter costa V midclavicula sinistra.
·      Perkusi          : sonor kanan dan kiri pada lapang paru.
·      Auskultasi     : Pernapasan bronkovesikular, wheezing (-/-), rhonki (-/-)
Bunyi jantung I/II murni regular
Abdomen
·      Inspeksi         : tampak datar, simetris, pustula (+)
·      Auskultasi     : peristaltic (+) kesan normal
·      Perkusi          : Timpani pada empat quadran
·      Palpasi           : Nyeri tekan (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
Anggota gerak           
·      Ekstremitas Atas       : akral hangat, simetris, oedem (-)
·      Ekstremitas Bawah   : akral hangat, simetris, oedem (-)
Tulang belakang : Tidak ada kelainan
Otot-otot         : Tidak ada otot yang atrofi
Rumple Leed  : Negative

Pemeriksaan Laboratorium
Tidak dilakukan







Resume
Anak laki-laki usia 1 tahun 10 bulan masuk dengan keluhan adanya pustula pada pinggang dan menjalar ke pundak dan leher sejak sehari SMRS. Febris (+) 2 hari sebelum pustule muncul, febris naik turun. rinorhea (+), muntah 1x, ibu pasien memiliki riwayat varisela sekitar seminggu SMRS, Kesadaran : composmentis, status Gizi : Gizi baik (BB : 10 kg   ; TB : 73 cm), denyut nadi : 108 kali/menit, suhu : 36.2 oC, pernapasan : 32 kali/menit, tekanan darah :100/60 mmHg, pemeriksaan fisik terdapat pustule pada kulit pinggang, dada, pundak, dan leher.

Diagnosis        : Varisela

Pentalaksanaan
·         Acyclovir 4 x 100  mg
·         Sanmol 4 x 1 cth
·         Interhistin 3x1/4 tablet











DISKUSI

Varicella-zoster (VZ) adalah suatu infeksi oleh virus Varisela-zoster yang dapat bersifat primer, laten, atau rekuren. Manifestasi primer adalah varisela dan dapat mengakibatkan timbulnya kelainan pada neuron di ganglion sensorik yang bersifat laten. Reaktivitas infeksi laten ini mengakibatkan terjadinya herpes zoster (shingles). Penyebab VZ adalah virus varisela-zoster (VZV), bersifat neurotropik yang mempunyai kemiripan dengan virus herpes-α, dan virus herps simplex (HSV). Virus ini terdiri dari lebih dari 70 jenis protein termasuk protein sebagai target dari imunitas seluler dan humoral.
Virus varisela zoster di mukosa saluran nafas dan di cairan lesi kulit ditularkan melalui sebaran udara atau kontak langsung. Infeksi primer varisela terjadi dengan adanya inokulasi virus di saluran napas. Pada awal masa tunas, virus memperbanyak dan diikuti dengan viremia dan gejala klinik ringan yang singkat. Masa viremia kedua ditandai dengan kelainan kulit yang tersebar luas. Sel mononuclear di darah tepi juga membawa virus yang infeksius dan menimbulkan lesi baru. Pada akhir masa tunas virus ada yang kembali ke saluran nafas yang selanjutnya dapat menularkan pada anak lain sebelum terjadi ruam kulit. Respon imun bersifat seluler dan humoral akan membatasi berkembangnya virus dan memfasilitasi penyembuhan. Respon imun yang tidak baik mengakibatkan replikasi virus berlangsung terus dan dapat menimbulkan lesi pada paru, hati, otak, dan lain-lain. Virus juga menimbulkan infeksi laten di sel-sel ganglion sensorik. Reaktivasi dari virus ini menyebabkan terjadinya herpes zoster berupa ruam vesikel yang tersebar menurut dermatom.
Varisela merupakan penyakit infeksi virus akut dan cepat menular yang disertai gejala konstitusi dengan kelainan kulit yang polimorf, terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Penyakit ini merupakan hasil infeksi primer pada penderita yang rentan. Gejala varisela dimulai dengan gejala prodormal baik lokal (nyeri otot) maupun sistemik (demam, sakit kepala,dll).  Kelainan kulit berupa vesikel berisi cairan jernih yang menyebar dengan dasar kulit yang eritematosa dan edema. Untuk lebih memastikan diagnosis, dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu Pemeriksaan percobaan Tzanck yang hasilnya akan ditemukan sel datia berinti banyak.
 Penatalaksanaan varisela bisa dilakukan secara medikamentosa (sistemik dan topikal) dan nonmedikamentosa. Untuk pengobatan sistemik dapat diberikan Acyclovir 20 mg/kg/BB, 4 dosis sehari untuk 5 hari diberikan sejak ≤ 48 jam saat awalan penyakit. Efek menjadi tidak pasti bila diberikan ≥ 72 jam dari saat awalan penyakit. Pemberian intravena dilakukan pada kasus dengan komplikasi berat. Herpes zoster pada anak biasanya berlangsung ringan oleh karena itu biasanya tidak perlu pemberian acyclovir, dan pemberian kortikosteroid juga tidak dianjurkan. Kecuali pada anak dengan imunokompromais, herpes zoster dapat berlangsung berat dan diseminasi, maka perlu pemberian acyclovir 10 mg/kgBB setiap 8 jam secara intravena. Selain itu diberikan juga paracetamol jika mengalami demam dan interhistin untuk keluhan gatal dan rhinorea pada pasien. Dapat pula diberikan pengobatan topikal yaitu bedak salisil 1% untuk mencegah pecahnya vesikel dan antibiotik topikal yaitu asam fusidat.
Mencegah penularan adalah sulit karena masa penularan telah ada sejak 24-48 jam sebelum timbul ruam. Imunisasi dengan vaksin virus hidup diberikan pada anak umur 12-18 bulan. Anak umur 12 bulan-12 tahun cukup diberi sekali suntikan. Efektivitas vaksin 85-95%, dan resiko terkena varisela hanya 6% dan secara klinik ringan sekali dengan beberapa ruam saja tanpa panas (breakthrough varicella). Pencegahan paska terpajan dilakukan dengan memberikan Varicella Zoster Immune Globulin (VZIG) 12.5 U/kg maksimal 625 U, atau bila pajanan terjadi dalam 3 hari mungkin masih efektif bila divaksinasi.
Komplikasi penyakit ini pada anak jarang terjadi. Komplikasi lebih sering terjadi pada orang dewasa berupa ensefalitis, pneumonia, karditis, konjungtivitis, otitis. Infeksi pada ibu hamil trimester pertama dapat menyebabkan kelainan kongenital. Angka kematian kurang dari 2/100.000 kasus, umumnya disebabkan oleh sepsis atau pneumonia dan anak belum mendapat imunisasi. Neuritis pasca herpes dapat berlangsung berbulan-bulan dan memerlukan perawatan.
DAFTAR PUSTAKA

1.      Straus SE, Oxman MN. Varicella and Herpes Zoster. In : Fredberg IM, et all, ed. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 5th ed. Vol. 2, New York : Mc. Grawhill inc, 2010.
2.      Handoko  RP.  Penyakit  Virus.  Dalam  :  Djuanda  A,  dkk,  editor.  Ilmu  Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2010.
3.      Harahap M. Varisela. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Gramedia, 2002.
4.      Sterling JC, Kurtz JB. Viral Infection (Varicella and Zoster). In : Text book of Dermatology, Rook/Wilkonsn/Ebing, 6th ed. Oxford : Blackwell Science, 2000.
5.      Rampengan  TH,  Laurente  IR.  Varisela.  Dalam  :  Penyakit  infeksi  tropik  pada anak. Jakarta : EGC, 2003.
6.      Landow  RK.  Infeksi  Virus  dan  Infeksi  Seperti  Infeksi  Virus.  Dalam  :  Kapita Selekta Terapi Dermatologik. Jakarta : EGC, 2008.
7.      Arnold HI, Odom RB, James WD. Varicella. In : Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology. 8th ed. Philadelphia : WB. Saunders Comp, 2008.
8.      Martodiharjo  S.  Penatalaksanaan  Klinik  Herpers  Zoster  dan  varisela.  Dalam  : Berkala Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Surabaya. 2009.
9.      Mitaart AH. Penyakit Kulit karena Virus. Dalam : Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta : EGC, 2008.
10.  Marwali, H., 2000, Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar