PENDAHULUAN
Varisela atau chickenpox atau yang dikenal dengan
cacar air adalah infeksi primer virus varicella-zoster (VZV) yang umumnya menyerang
anak dan merupakan penyakit yang
sangat menular. Varisela adalah
infeksi virus Varisela Zoster
(VVZ) menyerang kulit dan
mukosa, secara klinis
terdapat gejala konstitusi,
kelainan kulit polimorf, terutama
berlokasi dibagian sentral
tubuh. Varisela juga dikenal sebagai cacar air atau chicken pox.
Varisela dapat mengenai semua kelompok umur termasuk neonatus,
tetapi hampir sembilan
puluh persen kasus mengenai anak dibawah umur 10 tahun dan terbanyak
pada umur 5-9
tahun. Varisela merupakan penyakit
yang tersebar luas
diseluruh dunia, menyerang terutama anak-anak, namun dapat
pula menyerang orang dewasa.
Epidemik varisela terjadi pada musim dingin dan musim
semi, tercatat lebih dari 4 juta kasus, 11.000 rawat inap, dan 100 kematian
tiap tahunnya. Di Indonesia,
insidennya cukup tinggi dan terjadi
secara sproradis sepanjang
tahun. Varisela merupakan
penyakit serius dengan persentasi
komplikasi dan angka
kematian tinggi pada
dewasa. Pada rumah tangga,
presentasi penularan dari
virus ini berkisar
65%-86%. VVZ merupakan infeksi yang
sangat menular dan
menyebar biasanya melalui
udara atau sekresi respirasi dan
terkadang melalui transfer
langsung dari lesi
kulit melalui transmisi fetomaternal.
Virus
Varisela Zoster (VVZ) merupakan anggota famili herpesviridae dan sub famili
alfa herpes. Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus
ini menyebabkan varisela, sedangkan reaktivasi menyebabkan herpes zoster.
Jangka
waktu sejak penderita
terinfeksi virus sampai
timbul gejala sekitar
14 sampai 16 hari. Varisela dapat menyerang semua golongan umur termasuk
bayi, 90 % kasus berumur 10
tahun dan terbanyak
umur 5-9 tahun.
Pasien dapat menularkan penyakit selama
24-48 jam sebelum
lesi kulit timbul,
sampai semua lesi
timbul krusta/keropeng biasanya 7-8 hari.
Diagnosis varisela dapat ditegakkan dengan melihat
bentuk vesikel yang
khas yaitu seperti tetesan embun (tear drops) dan memiliki gambaran
polimorf, selain itu penyebaran
lesi kulit dari
varisela pada umumnya
pertama kali di
daerah badan kemudian menyebar
secara sentrifugal ke
wajah dan ekstremitas.
Lesi kulit dari varisela dapat juga menyerang selaput
lendir mata, mulut, dan saluran napas bagian atas. Berdasarkan
gejala klinisnya, varisela
memiliki tiga stadium
yang terdiri dari stadium prodromal, stadium erupsi, dan
stadium penyembuhan.
Berikut
akan dibahas sebuah refleksi kasus mengenai varisela
pada pasien anak yang dirawat di ruangan bangsal perawatan anak RSUD Undata
Palu.
LAPORAN KASUS
Identitas
Nama : an. Az
Jenis Kelamin : laki-laki
Usia : 1
Tahun 10 bulan
Tanggal masuk/jam : 26 Juni 2014/11.15
Anamnesa
Keluhan utama : Bintik-bintik kemerahan
Pasien masuk dengan keluhan bintik-bintik kemerahan
berupa benjolan pada pinggang dan menjalar ke pundak dan leher sejak sehari
sebelum masuk ke poliklinik rumah sakit. 2 hari sebelum muncul bintik-bintik
pasien mengalami panas naik turun. Panas turun jika minum obat penurun panas dan
naik kembali dengan sendirinya. Pasien juga mengeluhkan pilek sejak sehari
sebelum datang ke poliklinik rumah sakit. Keluhan juga disertai dengan muntah
sekali saat pagi sebelum ke poliklinik rumah sakit, muntah berupa makanan yag
dikonsumsi dengan warna biasa tidak ada kemerahan. Mimisan (-), batuk (-),
sakit menelan (-), sakit perut (-), sesak nafas (-). Buang air kecil lancar
warna kekuningan, buang air besar lancar cair (-) warna kehitaman (-).
Riwayat Keluarga
Sekitar seminggu sebelum
masuk rumah sakit ibu pasien mengalami cacar air dan sekarang sudah sembuh.
Keadaan Sosial Ekonomi
Pasien merupakan golongan
menengah dengan menggunakan jaminan kesehatan BPJS.
Riwayat Persalinan
Pasien
lahir dengan cukup bulan, lahir secara sectio
cesarea atas indikasi ketuban pecah dini dengan berat badan lahir 2800 gram.
Anamnesis Makanan
Pasien mendapat ASI dari lahir hingga umur 1 tahun
juga mendapat susu formula, mulai makan bubur saring sejak umur 6 bulan.
Sekarang pasien juga mengkonsumsi makanan rumah. Pasien jarang jajan
sembarangan diluar.
Imunisasi
Penderita mendapat imunisasi
wajib lengkap dan selesai umur 9 bulan.
·
BCG : 1 x
·
Hepatitis : 3 x
·
DPT : 3 x
·
Polio : 3 x
·
Campak : 1 x
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
Sakit sedang
·
Kesadaran : Compos mentis
·
Status Gizi : Gizi baik (BB
: 10 kg ; TB : 73 cm)
·
Tanda Vital : -
Denyut Nadi : 108 kali/menit - Suhu
: 36.2 oC
- Pernapasan : 32 kali/menit - TD : 100/60 mmHg
Kulit : Pustula (+), warna kuning langsat, lapisan
lemak cukup tebal, sianosis (-), ikterk
(-), turgor kembali cepat, edema (-)
Kepala : Normocephal, rambut sukar dicabut, ubun-ubun
besar menutup
·
Mata : konjungtiva anemis (-/-),
palpebra ikterik (-/-)
·
Hidung : sekret (-/-), pernapasan cuping
hidung (-/-)
·
Telinga : sekret (-/-)
·
Mulut : bibir tidak tampak
sianosis, lembab, lidah kotor (-) tidak hiperemis, gusi normal, tonsil T1/T1
tidak hiperemis.
Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening dan kelenjar limfe.
Thoraks
·
Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris
bilateral, pustula (+)
·
Palpasi : Vokal Fremitus kiri = kanan, Ictus
cordis teraba di sela inter costa V midclavicula sinistra.
·
Perkusi : sonor kanan dan kiri pada lapang
paru.
·
Auskultasi : Pernapasan bronkovesikular, wheezing
(-/-), rhonki (-/-)
Bunyi jantung
I/II murni regular
Abdomen
·
Inspeksi : tampak datar, simetris, pustula (+)
·
Auskultasi : peristaltic (+) kesan normal
·
Perkusi : Timpani pada empat quadran
·
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepatomegali (-),
splenomegali (-)
Anggota gerak
·
Ekstremitas Atas : akral
hangat, simetris, oedem (-)
·
Ekstremitas
Bawah : akral hangat, simetris, oedem
(-)
Tulang belakang : Tidak ada
kelainan
Otot-otot : Tidak ada otot yang atrofi
Rumple Leed : Negative
Pemeriksaan Laboratorium
Tidak dilakukan
Resume
Anak laki-laki usia 1 tahun 10 bulan masuk dengan
keluhan adanya pustula pada pinggang dan menjalar ke pundak dan leher sejak
sehari SMRS. Febris (+) 2 hari sebelum pustule muncul, febris naik turun.
rinorhea (+), muntah 1x, ibu pasien memiliki riwayat varisela sekitar seminggu
SMRS, Kesadaran : composmentis, status Gizi : Gizi baik (BB : 10 kg ; TB : 73 cm), denyut nadi : 108 kali/menit,
suhu : 36.2 oC, pernapasan : 32 kali/menit, tekanan darah :100/60
mmHg, pemeriksaan fisik terdapat pustule pada kulit pinggang, dada, pundak, dan
leher.
Diagnosis : Varisela
Pentalaksanaan
·
Acyclovir 4 x
100 mg
·
Sanmol 4 x 1 cth
·
Interhistin
3x1/4 tablet
DISKUSI
Varicella-zoster (VZ) adalah suatu infeksi oleh virus
Varisela-zoster yang dapat bersifat primer, laten, atau rekuren. Manifestasi
primer adalah varisela dan dapat mengakibatkan timbulnya kelainan pada neuron
di ganglion sensorik yang bersifat laten. Reaktivitas infeksi laten ini
mengakibatkan terjadinya herpes zoster (shingles). Penyebab VZ adalah virus
varisela-zoster (VZV), bersifat neurotropik yang mempunyai kemiripan dengan
virus herpes-α, dan virus herps simplex (HSV). Virus ini terdiri dari lebih
dari 70 jenis protein termasuk protein sebagai target dari imunitas seluler dan
humoral.
Virus varisela zoster di mukosa saluran nafas dan di
cairan lesi kulit ditularkan melalui sebaran udara atau kontak langsung.
Infeksi primer varisela terjadi dengan adanya inokulasi virus di saluran napas.
Pada awal masa tunas, virus memperbanyak dan diikuti dengan viremia dan gejala
klinik ringan yang singkat. Masa viremia kedua ditandai dengan kelainan kulit
yang tersebar luas. Sel mononuclear di darah tepi juga membawa virus yang
infeksius dan menimbulkan lesi baru. Pada akhir masa tunas virus ada yang
kembali ke saluran nafas yang selanjutnya dapat menularkan pada anak lain
sebelum terjadi ruam kulit. Respon imun bersifat seluler dan humoral akan
membatasi berkembangnya virus dan memfasilitasi penyembuhan. Respon imun yang
tidak baik mengakibatkan replikasi virus berlangsung terus dan dapat
menimbulkan lesi pada paru, hati, otak, dan lain-lain. Virus juga menimbulkan
infeksi laten di sel-sel ganglion sensorik. Reaktivasi dari virus ini
menyebabkan terjadinya herpes zoster berupa ruam vesikel yang tersebar menurut dermatom.
Varisela
merupakan penyakit infeksi virus akut dan cepat menular yang disertai gejala
konstitusi dengan kelainan kulit yang polimorf, terutama berlokasi di bagian
sentral tubuh. Penyakit ini merupakan hasil infeksi primer pada penderita yang
rentan. Gejala varisela dimulai dengan gejala prodormal baik lokal (nyeri otot)
maupun sistemik (demam, sakit kepala,dll).
Kelainan kulit berupa vesikel berisi cairan jernih yang menyebar dengan
dasar kulit yang eritematosa dan edema. Untuk
lebih memastikan diagnosis, dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu Pemeriksaan
percobaan Tzanck yang hasilnya akan ditemukan sel datia berinti banyak.
Penatalaksanaan varisela bisa dilakukan secara
medikamentosa (sistemik dan topikal) dan nonmedikamentosa. Untuk pengobatan sistemik dapat diberikan Acyclovir 20 mg/kg/BB, 4 dosis sehari untuk 5 hari diberikan
sejak ≤ 48 jam saat awalan penyakit. Efek menjadi tidak pasti bila diberikan ≥
72 jam dari saat awalan penyakit. Pemberian intravena dilakukan pada kasus
dengan komplikasi berat. Herpes zoster pada anak biasanya berlangsung ringan
oleh karena itu biasanya tidak perlu pemberian acyclovir, dan pemberian
kortikosteroid juga tidak dianjurkan. Kecuali pada anak dengan imunokompromais,
herpes zoster dapat berlangsung berat dan diseminasi, maka perlu pemberian
acyclovir 10 mg/kgBB setiap 8 jam secara intravena. Selain
itu diberikan juga paracetamol
jika mengalami demam dan
interhistin untuk keluhan gatal dan rhinorea pada pasien.
Dapat pula diberikan pengobatan topikal yaitu bedak salisil 1% untuk mencegah
pecahnya vesikel dan antibiotik topikal yaitu asam fusidat.
Mencegah penularan adalah sulit karena masa penularan
telah ada sejak 24-48 jam sebelum timbul ruam. Imunisasi dengan vaksin virus
hidup diberikan pada anak umur 12-18 bulan. Anak umur 12 bulan-12 tahun cukup
diberi sekali suntikan. Efektivitas vaksin 85-95%, dan resiko terkena varisela
hanya 6% dan secara klinik ringan sekali dengan beberapa ruam saja tanpa panas
(breakthrough varicella). Pencegahan paska terpajan dilakukan dengan memberikan
Varicella Zoster Immune Globulin (VZIG) 12.5 U/kg maksimal 625 U, atau bila
pajanan terjadi dalam 3 hari mungkin masih efektif bila divaksinasi.
Komplikasi
penyakit ini pada anak jarang terjadi. Komplikasi lebih sering terjadi pada
orang dewasa berupa ensefalitis, pneumonia, karditis, konjungtivitis, otitis.
Infeksi pada ibu hamil trimester pertama dapat menyebabkan kelainan kongenital. Angka kematian kurang dari 2/100.000 kasus, umumnya
disebabkan oleh sepsis atau pneumonia dan anak belum mendapat imunisasi.
Neuritis pasca herpes dapat berlangsung berbulan-bulan dan memerlukan
perawatan.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Straus SE, Oxman MN. Varicella and Herpes
Zoster. In : Fredberg IM, et all, ed. Fitzpatrick’s Dermatology in General
Medicine. 5th ed. Vol. 2, New York : Mc. Grawhill inc, 2010.
2.
Handoko
RP. Penyakit Virus.
Dalam : Djuanda
A, dkk, editor.
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2010.
3.
Harahap M. Varisela. Dalam : Ilmu Penyakit
Kulit. Jakarta : Gramedia, 2002.
4.
Sterling JC, Kurtz JB. Viral Infection
(Varicella and Zoster). In : Text book of Dermatology, Rook/Wilkonsn/Ebing, 6th
ed. Oxford : Blackwell Science, 2000.
5.
Rampengan
TH, Laurente IR.
Varisela. Dalam :
Penyakit infeksi tropik
pada anak. Jakarta : EGC, 2003.
6.
Landow
RK. Infeksi Virus
dan Infeksi Seperti
Infeksi Virus. Dalam
: Kapita Selekta Terapi
Dermatologik. Jakarta : EGC, 2008.
7.
Arnold HI, Odom RB, James WD. Varicella. In :
Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology. 8th ed. Philadelphia : WB.
Saunders Comp, 2008.
8.
Martodiharjo
S. Penatalaksanaan Klinik
Herpers Zoster dan
varisela. Dalam : Berkala Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Surabaya. 2009.
9.
Mitaart AH. Penyakit Kulit karena Virus. Dalam
: Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta : EGC, 2008.
10.
Marwali, H., 2000, Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar