Senin, 30 April 2012

SISTITIS AKUT


1.      Definisi
Sistitis adalah infeksi pada kandung kemih. Sistitis akut merupakan inflamasi akut pada mukosa buli-buli (vesica urinaria) yang kebanyakan disebabkan oleh infeksi bakteri. Infeksi kandung kemih umumnya terjadi pada wanita, terutama pada masa reproduktif. Beberapa wanita menderita infeksi kandung kemih secara berulang. Sistitis bakteri berulang sering ditemukan pada wanita diabetes, kehamilan atau anomaly congenital yang menyebabkan infeksi sekunder. Pada pria sistitis biasanya sekunder terhadap infeksi prostat ataupun ginjal atau sekunder terhadap retensi urin sisa.

2.      Epidemologi
Wanita lebih sering mngalami sistitis daripada pria dikarenakan uretra wanita lebih pendek dibandingkan dengan uretra pria. Selain itu juga getah pada cairan prostat pria mempunyai sifat bakterisidal sehingga relative tahan terhadap infeksi saluran kemih.

3.      Etiologi
E.coli (organisme paling sering, pada 80–90% kasus), juga Klebsiella,
Pseudomonas, grup B Streptococcus dan Proteus mirabilis.
Jalur utama infeksi yang terjadi pada sistitis adalah ascending melalui periurethral/vaginal dan flora pada tinja. Mikroorganisme penyebab utama adalah E.coli, Enterococci, Proteus, dan Stafilokokus aureus yang masuk ke dalam buli-buli melalui uretra. Selain akibat infeksi, inflamasi pada buli-buli juga disebabkan oleh bahan kimia seperti deodorant, detergent, atau obat-obatan yang dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli-buli (siklofosfamid).

4.      Patogenesis
Bakteri dari vagina bisa berpindah dari uretra ke kandung kemih.
Wanita sering menderita infeksi kandung kemih setelah melakukan hubungan seksual, kemungkinan karena uretra mengalami cedera pada saat melakukan hubungan seksual.
Kadang infeksi kandung kemih berulang pada wanita terjadi karena adanya hubungan abnormal antara kandung kemih dan vagina (fistula vesikovaginal).
Infeksi kandung kemih jarang terjadi pada pria dan biasanya berawal sebagai infeksi uretra yang bergerak menuju prostat lalu ke kandung kemih.
Selain itu, infeksi kandung kemih bisa terjadi akibat pemasangan kateter atau alat yang digunakan selama pembedahan.
Penyebab tersering dari infeksi kandung kemih berulang pada pria adalah infeksi prostat karena bakteri yang bersifat menetap. Antibiotik dengan segera akan melenyapkan bakteri dari air kemih di dalam kandung kemih, tetapi antibiotik tidak dapat menembus prostat dengan baik sehingga tidak dapat meredakan infeksi di dalam prostat. Karena itu, jika pemakaian antibiotik dihentikan, maka bakteri yang berada di dalam prostat akan cenderung kembali menginfeksi kandung kemih.
Hubungan abnormal antara kandung kemih dan usus (fistula vesikoenterik) kadang menyebabkan bakteri pembentuk gas masuk dan tumbuh di dalam kandung kemih. Infeksi ini bisa menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung udara di dalam air kemih (pneumaturia).



5.      Manifestasi Klinis
·         Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih. Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah.
·         Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di malam hari).
·         Air kemih tampak berawan dan mengandung darah.
·         Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain.)
Sistitis tanpa gejala terutama sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia uri sebagai akibatnya.

6.      Pemeriksaan
A.    Anamnesis
   Terdapat   gejala   frekuensi,   karena   buli-buli   mengalami
hipersensitif akibat reaksi inflamasi.
   Rasa nyeri/ sakit pada daerah suprapubik akibat kontraksi
buli-buli.
   Terdapat   riwayat   hematuria   akibat   eritema   pada   mukosa
buli-buli mudah berdarah.
   Riwayat kebersihan alat kelamin yang tidak bersih.
   Riwayat kencing yang berbau.
   Jarang/ tidak ada terdapat gejala seperti pada infeksi saluran
kemih   bagian   atas   seperti   demam,   mual,   muntah,   badan
lemas, dan kondisi umum yang menurun.
B.     Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan tentang keadaan umum pasien dan pemeriksaan urologi. Hal ini dilakukan karena sering kelainan-kelainan di bidang urologi memberikan manifestasi penyakit sistemik, atau kebalikannya. Tetapi khusus pada kasus ini kita menitik beratkan pemeriksaan System saluran kemih bagian bawah khususnya buli-buli, dikarenakan didukung oleh manifestasi klinis yang ada.
Pada pemeriksaan buli akan didapatkan :
• Adanya edema pada buli-buli
• Nyeri di daerah suprapubik
• Nyeri juga sering dirasakan di punggung sebelah bawah
C.     Pemeriksaan Penunjang
·         Urinalisis
ü  Makroskopik: urine berwarna keruh dan berbau
ü  Mikroskopik: piuria, hematuria, dan bakteriuria
·         Kultur Urine, dilakukan untuk mengetahui jenis kuman penyebab infeksi
·         Sistografi, dilakukan jika sistitis sering mengalami kekambuhan, sehingga perlu difikirkan adanya kelainan lain pada buli-buli seperti keganasan dan urolitiasis.
·         Rontgen, untuk menggambarkan ginjal, ureter dan kandung kemih
·         Sistouretrografi, untuk mengetahui adanya arus balik air kemih dari kandung kemih dan penyempitan uretra
·         Uretrogram retrograd, untuk mengetahui adanya penyempitan, divertikula atau fistula.
·         Sistoskopi, untuk melihat kandung kemih secara langsung dengan serat optik.

7.      Managemen dan Prognosis
A.    Managemen
Manajemen untuk sistitis akut adalah pemberian antibiotic oral jangka pendek. TMP-SMX, nitrofurantoin, dan fluoroquinolones memiliki keefektifan yang sangat baik terhadap  kebanyakan patogen yang menyebabkan cystitis. TMP-SMX dan nitrofurantoin memiliki harga yang murah sehingga dianjurkan untuk pengobatan sistitis uncomplicated. Pada orang dewasa dan anak-anak, durasi pemberian obat biasanya diberikan untuk 3-5 hari. Terapi jangka panjang pada sistitis tidak dianjurkan dan terapi dosis tunggal untuk perawatan Sistitis/ISK berulang tampaknya kurang efektif untuk dilakukan. Tetapi, fluoroquinolones dengan long half-lives (fleroxacin, pefloxacin, dan rufloxacin) mungkin cocok untuk terapi dosis tunggal. Angka resistensi bakteri penyebab sistitis terhadap penisilin dan aminopenicillins sangat tinggi sehingga tidak direkomendasikan untuk pengobatan pengobatan.
Selain antibiotic, kadang-kadang juga diperlukan obat-obatan golongan antikolinergik (propantheline bromide) untuk mencegah hiperiritabilitas buli-buli dan fenazopiridin hidroklorida sebagi antiseptic pada saluran kemih.
Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran kemih (uropati obstruktif) atau untuk memperbaiki kelainan struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi. Biasanya sebelum pembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.
B.     Prognosis
Prognosis pada kasus sistitis akut tergantung penanganan yang diberikan. Apabila penanganan yang diberikan cepat dan tepat maka akan mendapatkan prognosis yang baik, namun bila penanganannya salah dan buruk maka prognosisnya akan kurang baik.

8.      Komplikasi
Pada umumnya sistitis yang merupakan tipe ISK uncomplicated yaitu non-obstruksi dan bukan terjadi pada wanita hamil merupakan penyakit ringan (self limited disease) dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka panjang. Akan tetapi apabila sistitis terjadi pada wanita hamil, akan menyebabkan berbagai komplikasi khususnya akan terjadi pada bayi yang dilahirkan seperti:
·         Pielonefritis
·         Bayi premature
·         Anemia
·         Pregnany-induced hypertension
·         Retardasi mental
·         Pertumbuhan lambat
·         Cerebral palsy
·         Fetal death

Tidak ada komentar:

Posting Komentar